Senin, 03 Mei 2021

Review Hidden Identity - Drama Korea


Adakah yang sudah menonton HI atau sedang berencana menontonnya? 
PERHATIAN, BANYAK SPOILER BUAT YANG BELUM NONTON DAN KALAU GA MAU DI SPOILER GA USAH DI BACA. 
Sebenarnya, drama ini muncul tahun 2015, meski rata-rata rating perepisodenya tidak terlalu tinggi, drama ini cukup menjadi perhatian karena jajaran pemainnya.
Sama seperti semua orang, aku juga melirik drama ini di tahun 2021 karena baru tau kalau ada Kim Sang Bum alias Kimbum sebagai pemeran utama dari drama ini, dan akhirnya selesai menonton 16 episode dalam kurun waktu satu minggu, cukup lama untuk seorang penonton cepat, tapi di sini aku akan memberikan review dan pendapat subjektif terkait drama ini khususnya terkait karakter Kimbum yang juga banyak dibicarakan secara prokontra karena perubahan imagenya yang sangat berbeda dari karakter-karakternya sebelum ini.
Sejujurnya aku adalah fans Kimbum yang terkena syndrom cinta pertama dari drama BBF yang diperankan Kimbum tahun 2009. Tapi baru di tahun 2021 nonton drama dia lagi di LAW School yang lagi on going saat ini. Ada yang nonton juga? 
Nah, berasa kaya CLBK (cinta lama belum kelar ><) nontonin dia cuman dua kali seminggu itu kurang banget, jadi akhirnya aku search semua drama dia dan filmnya yang lama-lama trus milah dan milih satu-satu untuk di tontonin. 
Daaaaaaan terpilihlah Hidden Identity ini sebagai salah satu drama dia yang aku tonton karena sejatinya aku memang suka sama drama yang dark kaya HI ini, dari poster, judul, gender dan trillernya pasti semua tau kalah drama ini termasuk drama berat. Bahkan didrama ini Kimbum beneran tampil ala bad boy dengan karakter yang gelap dan sadboy banget dengan latar belakang karakternya yang memang bikin dia jadi sosok putus asa karena kehilangan cintanya oleh penjahat walaupun dia adalah seorang polisi.

Sebelum bahas Kimbum lebih jauh, aku bakal review dulu dramanya secara keseluruhan.
Drama ini punya 16 episode dengan satu episode lebih dari satu jam. Buat yang suka sama drama dengan misteri yang berat, action dan hampir tergolong sama sekali ga ada love line kecuali latar belakang pemeran utama Kimbum yang juga cuman muncul di flasback, tipis-tipis pun ga ada love linenya walaupun ada karakter utama perempuan di drama. semua murni cuman rekan kerja dan kayanya seluruh kehidupan mereka masing-masing udah sama-sama berat untuk sempat ngurusin cinta-cintaan lagi diantara rekan kerja.

Kalau drama punya jenis kelamin dan kepribadian, HI mungkin bakal tergolong jadi drama berjenis kelamin pria dengan kepribadian yang super duper dingin dan serius. Maksudku, ceritanya tu beneran monoton, bahkan buat orang yang suka sama drama berat dan gelap kaya aku sendiri hampir putus asa nontonnya kalau bukan karena Kimbum mungkin bakal nyerah di pertengahan dan nonton eps finalnya aja, dan ya, emang sempat kaya gitu. kayanya cuman sampe eps 8/9 aku nonton eps 16 nya karena mulai muak dengan misteri ga berujung dan penjahat yang ga habis-habis di drama ini, tapi memang karena butuh asupan Kimbum tiap hari, aku tetep nonton semua episode lagi sampai hari ini bisa selesain semuanya sampai episode 16. 

Sebenarnya, karena drama ini udah muncul sejak 5 tahun yang lalu, udah cukup banyak review drama ini dan secara keseluruhan ada dua pendapat utama tentang dramanya, ada yang bilang terlalu membosankan dan terkesan bodoh dengan segala hal yang terasa kurang realistis. Tapi disisi lain ada pihak penonton yang ngerasa kalau drama ini terasa benar-benar berat dan sangkin beratnya mereka beneran suka sama drama ini. belum lagi, banyak yang komen soal tokoh-tokoh didalamnya dan ga beda dari aku sendiri, banyak yang fokus ke Kimbum dan berkomentar dengan dua tanggapan utama yang bisa kalian liat sendiri di review drama ini, ada yang ngerasa karakternya terlalu old, memuakkan, dan ngerasa ga puas bahkan ada yang bilang harusnya dia berhenti akting karena aktingnya disini sangat sangat tidak bagus (ga ada akhlak ni orang -_- tapi ya itu pendapat dia jadi yaudah lah ya). sebalinya, banyak juga yang ngerasa wah dan mengapresiasi Kimbum banget karena perubahan karakternya yang sangat sangat mencolok karena mungkin semua orang taunya Kimbum dari BBF ya, dengan karakter yang tampan, punya aura playboy garis keras dan punya gaya boyband banget, tapi disini Kimbum beneran berbeda dengan rambut cepak dan brewok serta kulit hitam dan gaya yang lusuh,banyak dari penonton  yang cukup paham dengan karakternya dan malah mendukungnya dengan ekspresi yang monoton dan terkesan putus asa sepanjang drama karena ya memang cerita dan tuntutan karakternya ya seperti itu. 

Terlepas dari pendapat orang lain, aku bakal kasi review dan pendapatku secara keseluruhan soal drama ini mulai dari 4 episode awal. Di episode awal kita bakal di suguhkan dengan pengenalan karakter dan pengantar untuk plot dan masalah utama dari drama ini kedepannya. Dari awal kita dikenalkan dengan karakter utama yaitu Cha Gunwoo yang diperankan Kimbum sebagai seorang polisi dengan prawakan yang lusuh, dingin, tapi sebenarnya perhatian dan punya empati yang kuat dengan sesama rekan kerjanya meski dia tak menunjukkannya, seperti saat rekan kerjanya mati, Gunwoo sama sekali ga peduli kalau kalau dia bisa di pecat selama penjahat yang membunuh rekan kerjanya juga mati, dari situ kita bisa melihat karakter gunwoo cukup ekstrim dan liar, dia tidak mendengarkan atasan dan bertindak sendiri sesuai dengan apa yang ia anggap benar, tapi karakternya itu juga terbentuk dengan latar belakang yang menjadi salah satu plot utama dari drama ini. Jadi sebelumnya Gunwoo itu kehilangan pacarnya yang dibunuh tepat di depan matanya oleh penjahat, tapi dia ga bisa ngelakuin apa-apa karena dia juga di tembak sama sesama polisi yang takut Gunwoo membunuh penjahat itu, karena perarturannya seorang polisi memang sebisa mungkin harus menghindari membunuh siapapun termasuk penjahat, mereka harus dihukum dengan cara yang adil sesuai dengan kejahatannya, bukan dibunuh dengan membabi buta walaupun penjahat itu udah membunuh orang lain juga di depan gitu, aku pribadi ga tau ya gimana sebenarnya peraturan hukuman di Korea, tapi secara ga langsung di sepanjang drama aku merasa kalau ada pesan kuat dari drama ini yang menekankan kalau polisi adalah salah satu penegak keadilan, bukan pembunuh berdarah dingin yang semena-mena boleh membunuh orang lain karena mereka penjahat. Nah, dengan latar belakang itu, Gunwoo hidup selama 8 tahun sampai sekarang sejak tragedi kematian pacarnya dengan kondisi putus asa dan ngejalanin hari-harinya kaya mayat hidup, ga punya obsesi, dan mudah tersulut emosi serta pendek akal, yang bikin serem adalah dia salah satu polisi terlatih yang kuat, dan punya tehnik yang cukup bagus dan membuat dia tergolong salah satu polisi dengan kekuatan level tinggi.

Terpisah dari Gunwoo, tiga karakter utama lainnya yang ada di poster dikenalkan sebagai anggota dari tim investigasi khusus yang menyembunyikan identitas mereka sebagai polisi yang membuat rekan sesama polisi mereka sendiri ga tau kalau mereka adalah polisi dalam memberantas kasus kasus besar dan rahasia. salah satu anggota dari tim tersebut kemudian diculik dan membuat tim mereka kacau, disinilah ketua Tim mereka kemudian mencari Gunwoo untuk merekrutnya membantu tim dan menggantikan posisi anggota yang hilang, meski awalnya ga mau, Gunwoo ternyata punya sejarah panjang dengan anggota tim yang hilang, yang sebenarnya adalah saudara laki-laki dari pacarnya yang meninggal. Jadi, mau ga mau Gunwoo ikut tim itu untuk bisa nolong mantan calon kakak iparnya itu.

Pendek cerita, Gunwoo ga semata-mata langsung masuk ke tim tanpa seleksi, meski latar belakang Gunwoo cukup meyakinkan, mereka semua memberikan tes pada Gunwoo yang membuktikan kalau dia memang punya kemampuan yang cukup untuk bisa masuk ke tim khusus mereka. Dan selama 4 episode pertama, ceritanya akan berputar pada latar belakang dari pemeran utama dan operasi penyelamatan anggota yang hilang. Di episode awal ini banyak action dan misteri yang menumpuk dan mungkin bikin kita pusing kalau ga perhatiin drama ini dengan baik, belum lagi ada banyak karakter khususnya karakter penjahat dan karakter lain yang ambigu antara jahat atau baik dari preman-premannya sampai dengan para pejabat yang mencurigakan. 

dipertengahan cerita, konflik dan misterinya seakan kaya kabel berbelit yang sebenarnya berputar disitu-situ aja, actionnya bergulir terus, tapi salah satu yang bikin aku agak kurang srek itu dari gimana mereka semua udah terluka parah tapi besoknya tiba-tiba bisa sehat lagi, dan ini beneran bikin kita ngerasa sebenarnya drama ini punya plot yang cepat dan ga bertele-tele, tapi sejalan dengan itu alur ceritanya tetap kerasa kaya merangkak dan lama untuk berpindah dari satu sesi ke sesi berikutnya. 

Nah selanjutnya biar ga bingung, aku bakal kasi review tentang kekurangan dan kelebihan dari drama ini. Aku mulai dari kekurangannya, karena ga baik membawa orang terbang baru di buang ke bumi ehehe

Pertama, secara pribadi, aku merasa ceritanya khususnya cerita utamanya ga di kemas benar benar kompleks untuk menggambarkan si penjahat utama yang diincar itu beneran penjahat level atas yang memang perlu dikejar dan kalau mereka menang maka seluruh dunia bakal terancam, aku pribadi ga merasa kaya gitu, mungkin karena kita dari awal ga tau ya sebenarnya tujuan utama si penjahat itu apa, dan taunya baru di pertengahan ke akhir kalau sebenarnya penjahatnya itu kaya teroris yang mengancam keselamatan masyarakat seluruh negri. Dan karena kita memang taunya tujuan penjahatnya belakangan, kita bakal ngerasa kalau di awal-awal itu kita cuman nontonin gimana perjuangan polisi atau tim khusus ini berjuang ngelawan penjahat yang ga ada habis-habisnya. 

Kedua, latar belakang yang dikemas di satu flashback dan diulang terus menerus, menurutku flashback bagian pacar Gunwoo meninggal itu kebanyakan diulang untuk satu scane yang sama, paham si itu sebagai pengingat dan penekanan yang mempertegas kenapa karakter Gunwoo ini jadi begitu gelap dan putus asa karena terus di bayang-bayangin rasa bersalah waktu pacarnya meninggal itu, tapi sayangnya karena terlalu sering diulang, adegan itu malah terkesan mengganggu, boleh diulang ulang, tapi maunya ga sesering itu. 

Ketiga, tadi udah ku sebut sebelumnya, tentang realistis atau tidaknya adegan adegan di drama ini, sebenarnya di komentar orang-orang ku lihat cukup banyak yang ngomongin banyak adegan yang ga terlalu realistis dan terkesan bodoh, tapi untuk aku pribadi satu-satunya hal yang kurasa ga terlalu realistis adalah momen ketika masing masing dari mereka udah terluka parah, khususnya karakter Gunwoo yang sangat sangat menderita sepanjang drama dengan tusukan dimana-mana, tembakan dan darah yang melimpah ruah, sama karakter Letnan Min yang juga udah banyak banget di siksa tapi tiba-tiba dalam waktu singkat mereka benaran bisa kembali seperti semula tanpa cacat sedikitpun padahal pas actionnya tu udah kelihatan kejam banget, kenapaaaaaaaa mereka ga di kasi momen istirahat di ranjang rumah sakit dulu atau adegan ngobatin lukanya sebentar sebelum kembali kerja dan bisa ngelakuin adegan action lainnya lagi. 

Dan yang terakhir, aku ngerasa para pemeran utama disini tu kaya kucing yang punya 9 nyawa, mereka tu pada susah-susah banget matinya woy, udah di siksa, bedarah-darah, di tusuk sana sini, pokoknya di apain aja ga mati mati :). Tapi penjahatnya, haha,...... cucuk aja dikit pake pisau ukuran 8 cm bisa meninggoy padahal orangnya cukup besar dan seharusnya ga bisa langsung mati gitu aja cuman gegara ditusuk sama pisu sekecil itu, toh Gunwoo yang punya badan tipis gitu aja di tusuk berulang kali besoknya udah sehat lagi. 

Selanjutnya, kelebihannya!!!!! selain cerita soal kelebihan dari drama ini, aku juga bakal kasi sudut pandang ku sendiri terkait komentar penonton lain yang punya pendapat bersebrangan.




Pertama! ACTIONNYA BAGUS WOY! gila sih, terlepas dari emang Kimbum ganteng banget pas lagi berantem dan bikin betah mantengin setiap adegan actionnya, aku memang mau muji ACTIONNYA KIMBUM! beneran deh, walaupun semua orang bebas berkomentar, aku tetep ga bisa terima sebenarnya kalau ada yang bilang Kimbum gagal dengan karakternya disini, dia bagus banget lo woooooy, tapi ya sudah lah ya, ga bisa maksain pendapat kita sama orang. Cuman serius, action dia bagus, kalau dia orang lain pun, tapi bisa ngelakuin adegan action kaya Kimbum aku juga bakalan muji kok. Meski badannya kecil, dan terkesan kaya orang yang hidup segan mati tak mau, pas berantem Kimbum bisa mengeluarkan aura ganas dan gaharnya dia dan bikin setiap penjahat yang liat mukanya itu tu gedeg karena sorot mata dia pas mau berantam itu memang nunjukin kalua dia ga takut sama sekali bahkan terkesan kaya ga takut mati dan udah siap mati kapan aja jadi kalau bisa coba bunuh aku, sorot matanya tu kaya gitu. selain itu gerakannya juga lincah banget karena badannya yang kecil itu ya, jadi dia beneran gesit, kaya ular yang kuat dan punya tehnik tehnik khusus.
Tapi bukan cuman Kimbum, semua karakter memang badas badas banget lo actionnya, walaupun terkadang aku ngerasa darahnya terlalu bersimbah dan berlebihan, tapi ya adegan actionnya cukup memuaskan dan bikin kita anteng bahkan ngilu pas adegan-adegan yang ekstrim. 

Kedua, tentang adegan-adegan yang dianggap bodoh sama beberapa orang ketika para polisi terlihat terkesan memaksakan untuk berantam dan bukannya baku tembak ketika mereka di posisi-posisi yang mencekam, menurutku malah itu adalah pesan utama dari cerita ini, semua pemeran utama yang akhirnya tergabung dalam satu tim investigasi khusus yang rahasia dan identitasnya disembunyikan ini udah mengorbankan hidup mereka cuman untuk menumpas kejahatan dengan segala cara tanpa merugikan sesiapapun dan dengan segala siasat yang diusahakan sedemikian rupa bisa mencapai tujuan yang ga bisa di capai sama polisi biasa, nah untuk melakukan semua itu mereka kan udah berkorban banyak, jadi mereka semua, keseluruh cerita ini menekankan gimana si susahnya perjuangan para penegak keadilan untuk tetap bertindak adil yang artinya ga man tembak aja, ga main bunuh aja, dan mereka semua memang punya kemampuan khusus untuk ngelawan dengan tangan kosong dan melumpuhkan lawannya, dan hal itu bisa dilihat dari gimana Gunwoo yang awalnya kaya mad dog yang bawaannya itu kaya prinsip mata di balas mata, nyawa di balas nyawa, berubah jadi keadilan dan hukuman harus ditegakkan sesuai dengan kejahatan yang mereka lakukan sejahat dan sebiadab apapun tindakannya.

Ketiga, Latar belakang dan karakter, lagi-lagi aku fokus ke Gunwoo ya alias Kimbum karena memang dia pemeran utama dan dia juga paling banyak di komentarin sama banyak orang kaya yang aku bilang di atas. Banyak yang ngerasa kalau dia ga berhasil bawain karakter Gunwoo dan malah terkesan terlalu memuakkan, dengan ekspresi monotonnya yang murung dan putus asa, pembawaannya yang kaya mayat hidup untuk latar belakang sebagai orang yang ngeliat langsung pacarnya di bunuh didepan matanya, banyak orang yang merasa kalau karakternya terlalu berlebihan untuk hal yang sepertinya dianggap ga terlalu berat, apalagi kondisinya kejadian pacarnya di bunuh itu sudah 8 tahun yang lalu. Tapi, menurutku ya, di drama ini sebenarnya udah cukup dijelaskan dan diberi pemahaman sampai terkesan berlebihan untuk semua orang tentang gimana dan betapa tertekannya Gunwoo dengan tragedi  yang menimpanya sebelumnya. Sebagai perbandingan, Minjoo, satu satunya anggota perempuan di tim mereka yang punya karakter kuat dan ceria ini juga ternyata punya masa lalu yang buruk, ibunya di bunuh di depannya saat dia masih sekolah, dia di culik sebagai ancaman agar ayahnya tidak mengambil jabatan yang penculik itu inginkan. ada juga adegan ketika Minjoo bilang kalau semua orang punya lukanya masing-masing, tapi Gunwoo dimata Minjoo kaya anak kecil yang merengek untuk hal yang ga bisa dia dapatkan lagi. 

Nah, dari sudut pandangku, baik Gunwoo maupun Minjoo punya luka yang sama sama berat, mereka kehilangan orang yang paling berharga bagi diri mereka di depan mata mereka sendiri dan mereka sama sama ga bisa melakukan apa apa. Tapi apa yang harus di perhatikan adalah, Minjoo mengalami tragedi itu ketika dia masih gadis muda biasa yang ga punya kemampuan apa apa, dia di culik dan terikat, begitu juga ibunya lalu ibunya di bunuh didepannya. Sedangkan tragedi yang dialami Gunwoo adalah kondisi ketika dia sendirilah yang membawa pacarnya ke gedung kosong tempat para penjahat itu berada dan tentu tanpa sepengathuan Gunwoo ya, tempat itu jadi tempat pembunuhan, dan sebagai seorang polisi Gunwoo ga bisa mengabaikan kondisi itu dan ninggalin pacarnya untuk melihat kondisi, tapi ternyata pacarnya malah di sandra, dan karena tersudut dengan kedatangan polisi lain yang di panggil Gunwoo sendiri, pacarnya di bunuh sama penjahat yang akhirnya di tangkap, Gunwoo saat itu di tembak dan ga bisa ngelakuin apa apa selain menangis liat pacarnya mati di depannya. Apa poinnya? Minjoo berada di posisi yang memang diluar kendalinya dan dia ga bisa melakukan apa apa karena dia ga punya kemampuan, BEDA sama Gunwoo yang memang bawa pacarnya sendiri ketempat kejadian, dan saat dia bisa aja nembak penjahat itu dan punya kemampuan untuk nyelamatin ceweknya, dia GA BISA, dia tertahan karena dia ga bisa maen tembak orang aja, belum lagi saat cewenya udah di tusuk, dia tertembak dan si penjahat keburu di tangkap sampe ga bisa dia bunuh balik kalaupun dia bisa. 

Jadi, poinnya, Gunwoo tumbuh menjadi karakter yang putus asa dan hidup kaya mayat yang penuh rasa bersalah karena memang semua tragedi yang ia alami itu adalah kesalahan dia, satu satunya yang bisa dia salahin selain dirinya adalah polisi lain yang nembak dia waktu dia mau nembak si penjahat, tapi dari pada nyalahin si polisi, Gunwoo lebih nyalahin dirinya sendiri yang membawa pacarnya sendiri ketempat itu, dan betapa lemahnya dia sampe ga bisa ngejaga pacarnya sendiri. Sedangkan Minjoo yang ga bisa ngelakuin apa apa waktu tragedi, dengan jelas tau kalau semua kejadian itu sampai ibunya meninggal semua karena ayahnya, Minjoo punya tempat untuk menyalahkan semua kejadiannya, yaitu ayahnya. sedangkan Gunwoo ga bisa, satu satunya yang bersalah adalah dirinya sendiri. Nah, masalah udah begitu lamanya tragedi berjalan, dan Gunwoo tetap hidup seperti itu dan terkesan memuakkan menurutku karena dia tetap jadi polisi, di lihatkan pas anggotanya geledah rumah Gunwoo, satu satunya cahaya hidup Gunwoo itu cuman pacarnya dan kakak si pacarnya aja, ga ada yang lain, ga ada sosok orang tua ataupun keluarga lain, selain cahaya hidupnya memang udah ga ada, dia tetap harus hidup sebagai seorang polisi, padahal mungkin si Gunwoo ini sebenarnya udah ga mau jadi polisi, secara karena profesinya dan prinsipnya sebagai polisi yang ga bisa mengabaikan kejahatan, pacarnya jadi korban, dan yang bikin dia ga bisa bunuh penjahat yang nusuk pacarnya, juga sesama polisi lainnya. Udah hidup sebatang kara, dia juga harus tetap jalanin profesi yang bikin dia terus merasa bersalah dan ingat tragedi pacarnya. Di awal episode kita bisa lihat juga gimana nekatnya si Gunwoo yang terjun dari lantai atas gedung untuk ngehabisin penjahat yang membunuh rekan kerjanya, Gunwoo udah di peringatkan dan kayanya ini bukan kali pertama dia bertindak ekstrim dan melanggar aturan, artinya si Gunwoo ini dasarnya emang udah ga peduli lagi sama profesinya, dia cuman kaya mayat hidup yang jalanin kehidupan kemana kakinya melangkah, dan pas dia mau, dia bakal ngelakuin apapun yang dia mau dan dia siap ngorbanin semuanya termasuk hidupnya sendiri supaya dia ga kehilangan apapun lagi kaya pacarnya. 
 
Dan akhirnya, secara keseluruhan drama ini memang ga sebagus itu, 7/10 menurutku. dengan segala kelebihan dan kekurangannya, 7 adalah nilai yang menurutku paling pas. 

Untuk karakter, setiap karakter menurutku luar biasa, khususnya Kimbum, karena aku punya syndrom sadism yang bikin aku suka banget liat orang yang ku suka menderita, ya aku sangat-sangat berterimakasih dengan drama ini karena sudah menyiksa Kimbum dengan sangat baik. ehehehe
Kurasa itu aja, ini review drama pertama ku, panjang banget mungkin, tapi ini semua apa yang aku fikirkan dan kuharap semua orang bisa memberikan cintanya pada setiap aktor dan penulis di setiap drama yang kalian nikmati. Kalau ga suka, kalian bisa memberikan komentar yang membangun, bukannya menyuruh aktornya atau penulisnya berhenti berkarya.
Terimakasih





Sabtu, 16 Juni 2018

Record 2 (2/2) - Catatan Perjalanan Calon Anggota


Puncak Pertama

Jum’at 9 Maret 2018
Masih di hari yang sama, saat kami datang ke desa pertama kali di pagi tadi sebelum tengah hari. dan akhirnya, hari sudah terik menuju sore, ketika sinarnya semakin terang dan suhunya mulai tak terjelaskan, dingin, sejuk, bercampur sinar matahari yang tak menyerah mencoba memanaskan kami.
Sosiologi pedesaan selesai, maka tujuan sebenarnya datang ke daerah itu adalah pemabahasan selanjutnya. Informasi informasi yang kami dapatkan dari warga desa juga di pergunakan untuk mengetahui bagaimana caranya memasuki hutan dan mencapai Deleng Barus, gunung yang tak setinggi gunung gunung besar terkenal lainnya, yang juga sebenarnya adalah gunung merapi muda dan juga tak seterkenal apalagi seganas gunung gunung besar lainnya.
Peta dan Kompas kini mengambil peran, jika tadi berbincang bincang dengan bahasa kali ini kami bermain dengan angka. Memastikan arah dan jalur yang sebelumnya telah di siapkan dari peta maka kenyataannya sungguh berbeda dengan alam sebenarnya. Masih penuh dengan pengalaman pertama, pertama kali menggunakan peta di alam sebenarnya, pertama kali mencocokkan objek dipeta dengan alam sebenarnya, pertama kali mencari jalur dari peta dengan alam sebenarnya, dan pertama kali kami harus benar benar di pusingkan karena peta.
Kelompok kami, jauh lebih lama dari pada kelompok satunya dalam menentukan jalaur mana yang harus di capai. Setelah di desak oleh para instruktur, akhirnya kami memilih mencoba mengambil resiko dari pada hanya berdiam diri tanpa kepastian. Jalur pertama adalah menerobos semak semak yang segaris lurus dengan arah Kompas. Dan Gagal! Tertembus, berputar, dan mencoba cari jalan yang lain dengan tujuan dan arah yang sama, GAGAL lagi! Beberapa kali, mecoba menerobos dan mencuri curi jalur mana saja yang ada untuk arah yang sama, masih gagal dan kami akhirnya kembali pada titik pertama. Percayalah, menggunakan peta dan kompas untuk pertama kali jauh lebih sulit dari yang terbayangkan.
Atas arahan instruktur, kami mulai mencari jalan mengitar yang lebih jauh, melewati pohon pinus, masuk ke hutan dan mencari jalan dari sana dengan arah yang sama. Dan dari pada sebelumnya, jalur dari hutan yang memutar lebih menunjukkan hasil positif dari pada menerobos semak semak setinggi orang dewasa yang sama sekali berbeda dengan semak semak yang ada di pinggiran jalan.
Ada beberapa jalan setapak, tapi kami bukan mengikuti jalan, melainkan menentukan jalan kami sendiri. Mencari perpotongan sungai sebagai titik awal yang kami tentukan sesuai dipeta, tapi sampai akhir, akmi hanya bertemu aliran air kecil seperti parit yang tak pernah terbayangkan adalah sungai yang kami sebut sebut dipeta. Setelah berjalan cukup jauh, perpindahan arah di kompas dan hutan yang semakin dalam, akhirnya instruktur memberi kesimpulan dan menambahkan informasi, bahwasanya kami sejak tadi sebenarnya telah melewati titik yang kami cari cari. Walau merasa bodoh dan masih belum terlalu mengerti sebenarnya jalan mana yang benar, setidaknya yang kami cari telah kami dapati. Titik A, perpotongan dua sungai yang sama sekali tidak terlihat seperti sungai itu telah di temukan secara samar samar dan itu cukup membuat kami di izinkan kembali ke peristirahatan pertama.
Sore sudah benar benar datang, setelah sedikit instruksi dan arahan, kami di berikan waktu untuk mendirikan Bivak kami masing masing di sekitaran pondok, sekaligus waktu untuk makan yang artinya juga memasak. Tak banyak waktu, semua membagi tugas, dan masing masing sibuk dengan kelompoknya. Anak anak baru yang masih belum sadar dengan keutuhan kelompok sebenarnya bukanlah kelompok kecil yang ada di dalam kelompok kami, melainkan kesuksesan kami ber enam secara keseluruhan. Dan sore itu kami baru menyadarinya.
Bivak yang sulit di bangun, kompor yang hidup mati karena baru pertama kali memasak menggunakannya, di tambah suhu dingin dan waktu yang mengejar, kami jauh lebih cemas dan kacau dari mencari jalur. Dan benar, kami terlambat. Evaluasi di lakukan di dalam pondok dengan penerangan dari headlamp dan senter. Instruktur memberikan kami teh hangat dan masing masing dari kami menjelaskan apa yang kami alami dan rasakan sejak malam karantina hingga hari itu sampai di desa.
Kurang lebih pukul 9, kami di persilahkan istirahat di luar, di bivak kami masing masing dengan suhu yang sekarang benar benar terasa dingin. Ada beberapa kejadian sebelum tidur, mulai dari anjing warga penjaga lahan yang sempat heboh menggonggong karena salah paham mengira kami penyusup dan entah karena apa dia kemudian menghilang begitu saja, sampai aku, ya aku! Benar benar kedinginan sampai menggigil dan hampir terkena masalah kalau bukan karena ada beberapa teman yang berhasil bangun karena suara lirih dari aku yang sudah tak bisa apa apa dan akhirnya harus beristirahat di pondok. Pribadi, aku memang tak tahan dingin, dan sepertinya belum mampu menyesuaikan diri dengan alam. Masih pertengahan malam, dan aku sudah menggigil bergetar, setelah akhirnya menyerah dengan kondisi fisik yang lemah, aku berintirahat sendiri di pondok sedangkan teman teman yang lain di luar, maaf untuk itu, tapi pukul 04.45 dini hari, walau masih dengan dingin yang tak bersahabat, aku jauh lebih baik dan mengambil peran untuk membangunkan semua anggota. Menyegerakan memasak dan membereskan barang walau pada akhirnya, kami masih terlambat, setidaknya, pagi itu kami sarapan dengan benar dari pada makan malam yang penuh masalah hanya karena kompor yang belum bisa di atasi.
Sabtu
10 Maret 2018
Pagi datang dengan cepat, setelah pemanasan dan arahan, kedua kelompok bergerak terpisah, memastikan beberapa saat arah jalur yang telah kami cari di hari Jum’at menjadi jejak yang kami lalui lagi. Berharap mengulang kesuksesan tak jelas di hari sebelumnya, akhirnya kami memang gagal lagi. Kami berjalan terlalu jauh, dua kali bolak balik menyusuri jalan setapak dan akhirnya mulai mendaki. Jalur dan treknya mulai bervariasi. Tak ada jalan setapak yang harus kami ikuti, melainkan harus menciptakan jalur sendiri dan sekuat tenaga mengabaikan jalur jalur yang sudah ada. Masih bersama kesulitan dan kebingungan, kurang paham membaca bentang alam dan arah yang jelas namun tak di mengerti membuat perjalanan jauh lebih lambat dan memakan waktu lebih lama dari seharusnya.
Semakin jauh berjalan, salah satu anggota kami mulai kelelahan, dan masalah di perjalananpun di mulai. Sembari bingung menentukan jalur, teman yang kelelahan juga menjadi hambatan bagi kelompok. Tapi kami harus tetap pergi, tak ada pilihan selain terus melanjutkan perjalanan. Di sana, pelajaran paling utama dalam perjalanan akhirnya kami dapatkan. ‘memaksa diri’. Jika selama ini,  aku lebih sering mendengar kata kata ‘jangan paksakan dirimu’, maka kali ini, ‘paksakan terus dirimu’ adalah kata kata yang paling sering kami ucapkan. Di alam, tak ada diskriminasi dan belas kasihan. Jika bukan diri sendiri, maka tak ada yang bisa di harapkan untuk menyelamatkan diri. Sembari saling menyemangati, instruktur terus mengikuti kemanapun kami pergi. Beberapa kali memberi waktu istirahat untuk mengumpulkan tenaga, dan masih belum menemukan titik terang dari tujuan kedua kami, yaitu titik B, kami sudah menghabiskan waktu setenga hari.
“Tapi, di tengah tengah perjalanan. Dengan segala kesusahan dan masalah yang kami hadapi, untuk ku, di dalam hati yang paling dalam, aku sedang bersorak girang karena apa yang sedang aku lakukan. 19 tahun sudah hidup di dunia ini, ini adalah pertama kalinya aku benar benar memasuki hutan, mendaki dan menapaki jalur jalur di hutan yang sebenarnya, bukan hutan perkebunan bahkan ini adalah gunung yang nyata. Walau memang bukan gunung yang besar, tapi siapa yang peduli. Yang selama ini aku impikan adalah, meihat langit di antara pepononan rapat dan berjalan di tanah yang juga di penuhi semak semak. Walau hanya sebuah mimpi dan hal yang sederhana, tapi percayalah, saat itu, aku bahkan mungkin sama senangnya saat berhasil memenangkan kontes busana muslim tingkat provinsi dan menjadi pemenang satu satunya emas dari kotaku yang tak pernah bisa kubayangkan. Melewati jalur yang bersebelahan langsung dengan jurang, akar akar besar yang menjulur dari atas dan bawah tanah, pohon pohon besar dengan batang dan akar yang tak bisa ku jelaskan hanya dengan kata kata, tumbuhan tumbuhan seperti spons dan beragam jamur warna warni. Segala serangga termasuk pacat yang menjijikkan dan ulat ulat berbagai ukuran, sesaat aku merasa seperti berada di lautan dalam versi daratan yang indahnya mengalahkan segala beban dan lelah di tubuh.
Walau terdengar melebih lebihkan, ini adalah sudut pandang dari seseorang yang telah lama bermimpi dan mimpinya jadi kenyataan. Mimpi sedehana dari seseorang yang sebelumnya hanya dapat menatap gambar hutan dan pepohonan, dan kali ini bisa mencium bau hutan dan udara yang dingin dalam kenyataan. Bahkan sepertinya, aku menemukan beberapa spot seperti yang ku lihat di game dan gambar dihutan itu, dan aku hampir berteriak kegirangan menginjakkan kaki di sana.
Maka sungguh, nikmat tentang menggapai mimpi itu bukan hanya tentang menjadi seseorang yang kau cita citakan. Mimpi sederhana seperti ini juga sesuatu yang terkadang tak bisa di lupakan dan hanya di mengerti oleh diri sendiri. Tapi itulah yang kurasakan. mungkin tak semua bisa mengerti, dan memang tak harus di mengerti orang lain. Karena apa yang kurasakan adalah kenikmatan untuk diri sendiri dan yang mau mengerti saja.”
Di perjalanan kami bertemu dengan kelompok lainnya yang sepertinya juga kesusahan dan kesulitan. Arah dan jalur kami kebetulan sama, maka beberapa saat kami berjalan bersama. Dengan sedikit emosi yang berbeda antar teman, sepertinya alam benar benar menunjukkan siapa kami sebenarnya, membuat perjalanan itu di penuhi ketegangan. Sampai akhirnya makan siang, pelan pelan, kami saling bercanda, tak ingin menambah masalah di antara segudang masalah di perjalanan pertama kami. Perjalanan berikutnya kami kembali berpisah, dan teman yang lemah semakin lemah. Baik instruktur dan kami anggota yang lain, tak berhenti menyemangati teman kami. Tak ada pilihan untuk berhenti apalagi menyerah. Seharusnya hari ini kami sampai di puncak, dan waktu yang kami lewati telah jauh melampaui waktu yang di tentukan.
Jalur yang semakin menanjak, suhu dingin dan hujan yang datang silih berganti sesuka hati. Tanpa sadar, seluruh pakaian kami basah kuyup. Di penuhi lumpur dan kotor. Tapi, setidaknya, perjuangan itu benar benar berhasil dan tak ada masalah fatal. Pukul 3 sore kami sampai di titik B. menuju ke titik titik berikutnya jauh lebih singkat, tapi kami benar benar tak bisa mengejar puncak di satu hari yang sama. Dan akhirnya, Camp kedua di letakkan di puncak bohong, puncak gunung yang bukan puncak sebenarnya, yaitu dataran tertinggi kedua selain puncaknya yang sesungguhnya.
Dingin karena basah, dingin karena dataran tinggi, dingin karena memang suhu di sana sudah dingin, sekali lagi, dan kali ini benar benar menjadi masalah untuk diriku pribadi. Hanya berhenti sebentar, untuk arahan dan nafasku sudah tersenggal. Masalah yang membuatku selama ini tak pernah bisa pergi ke gunung, yaitu sesak nafas karena udara dingin yang tak tertahankan. Tapi untunglah, instruktur kami jauh lebih sigap dari yang kubayangkan. Oksigen dari mereka benar benar membantu, bahkan untuk semalaman yang kulewati di tempat yang lebih dingin dari pada sebelumnya sama sekali tak membawa masalah yang sama untuk kedua kalinya.
Untuk malam ini, kami setuju mendirikan bivak kelompok, kami berendam akan tidur di bivak yang sama dengan pembatas sleepingbag masing masing. Tak ada yang perlu di khawatirkan mengingat tak ada yang sempat berfikir aneh aneh di situasi dan kondisi seperti itu, toh, masing masing tidur di dalam kepompongnya sendiri sendiri.  Setelah evaluasi yang di adakan di tempat yang sama, akhirnya pukul setengah sepuluh kami semua sudah masuk ke bivak, jauh lebih cepat tidurnya karena dingin yang luar biasa.
Minggu
11 Maret 2018
Pagi juga sepertinya datang lebih cepat, hampir dari kami semua terlambat bangun dan sulit bergerak karena dingin yang tak terkatakan lagi. Tapi, tak bisa berlengah lengah bahkan secepat apapun kami berusaha, pada akhirnya kami masih terlambat lagi. Pagi itu, kami jauh lebih terlambat dari yang sebelumnya, dan cukup menambah deretan hutang konsekuensi yang harus kami bayar karena terlambat selama ini.
Tapi tak lama lama, mengingat hari ini kami harus sampai puncak dan harus kembali pulang juga, maka perjalanan kembali di mulai. Kelompok kami lagi lagi lebih lama dalam menentukan jalur, tapi siapa sangka, karena keadaan jalur yang menurun, hanya 10 menit kami sampai di titik berikutnya. Yaitu lebahan di antara dua puncak.
Setelahnya, kami melanjutkan perjalanan untuk menuju puncak yang sebenarnya, kembali mendaki, dan jalur lebih buruk, lebih curam, banyak batang batang pohon dan tanah basah di sana sini. Salah satu angota kami kembali bermasalah dengan kelelahan bahkan jauh lebih cepat dari sebelumnya, maka cobaan untuk grup kembali lagi. Tapi, tak ada yang mau menginap semalam lagi, maka satu satunya jalan adalah secepat cepatnya sampai di puncak, dan secapt cepatnya sampai kembali. Itu adalah satu satunya pilihan.
Menarik, menyemangati dan mendorong terus teman kami adalah hal terakhir yang dapat kami lakukan, dan syukurlah, tak sampai tengah hari, kami sampai di puncak, yang di tandai dengan sebuah pilar yang berbentuk segi empat dan ada beberapa angka dengan makna tersirat terukir di sana. Pada kenyatananya, kami telah melewati puncak tertinggi untuk mencapai pilar yang tak dibangun di puncak sebenarnya. Dengan alasan dan tujuan tertentu pilar itu di bangun di dataran yang sedikit lebih rendah dari puncak sebenarnya.
Setelah menikmati keberhasilan pertama kami mencapai tempat itu, maka masalah berikutnya adalah jalan pulang. Namun, ada kebahagiaan sederhana terjadi di sana, instruktur kami memberikan kami hadiah kecil yang sudah termasuk istimewa sebenarnya untuk kami karena mungkiiiin, kami telah berhasil sampai di puncak.
Perjalanan pulang di pimpin langsung oleh instruktur. Tak perlu repot mencari jalan menggunakan peta dan kompas, kami hanya perlu megikuti instruktur kami, tapi ternyata itu juga tak mudah. Lagkah instruktur kami yang sebenarnya adalah wanita ternyata jauh lebih cepat, bahkan ketua tim kami tak ada yang bisa mengejar, ditambah teman kami ada yang benar benar lambat maka perjalanan pulang itu terasa seperti kejar kejaran yang tiada akhir.
Berhenti beberapa kali, untuk makan siang sampai pembagian beban, berharap itu akan membantu teman yang jalannya lebih lambat dari kami semua, dan ya, secara pribadi karena aku berjalan dengannya sejak awal, dia memang lebih cepat walau kata senior, itu masih lambat.
Jalurnya sedikit berbeda dari jalur naik, tapi menuruni gunung jauh lebih berat sepertinya dari pada naik, karena jalan jalan yang sebelumnya di panjat harus di turuni, entah bagaimana menjelaskannya, tapi kami jauh lebih sering tersungkur dan terjerembab saat turun dari pada naik. Baik pacat, duri, air, dan lumpur, tak ada yang perduli lagi. Tubuh kami sudah pasti memar memar, terantuk sana sini dan terbentur kemana mana, di tambah beban yang beratnya sudah dua kali lipat karena tas yang basah benar benar terasa seperti perjuangan, tapi itu adalah pengalaman pertama.
Pukul 3 sore kurang lebih, akhirnya kami melihat cahaya yang berbeda, bukan cahaya matahari yang terus terusan terhalang oleh pepohonan rimbun, tapi cahaya matahari yang langsung mencapai tanah karena kami telah sampai di desa.
Entah bagaimana leganya, akhirnya sudah benar benar keluar dari hutan yang awalanya sangat ingin kami masuki, sudah sampai , dan perjalanan berikutnya bukan lagi masalah yang berarti.
Di peristirahatan pertama, instruktur yang sebelumnya tidak ada kali ini terlihat di sana, sepertinya mereka menyusul untuk mengiringi pulang. Hanya sedikit pengarahan dan penyambutan dengan buah strawberry pemeberian warga, akhirnya kami benar benar pulang dengan berjalan kaki menuju simpang tongkoh, dan dengan, keadaan baju dari ujung kepala sampai kaki kotor dan lembab. Sama seperti saat pergi, kami menunggu bus di pinggir jalan yang entah mengapa kali ini benar benar lama. Hampir lebih satu jam kami menunggu bus dan menjadi objek tontonan orang orang yang lalu lalang di pinggir jalan. Dan setelah dapat, tak sekaligus semuanya pulang di satu bus, setengah dari isntruktur harus menunggu bus berikutnya, sedangkan kami berenam dan 4 instrutur yang juga menemani kami mendaki pulang lebih dulu.
Perjalanan pulang kami isi dengan tidur. Lelah dan segala syukur akhirnya bisa pulang tertuang dari lelapnya kami semua selama perjalanan sampai suhu mulai menjadi hangat saat memasuki kota medan.
Sampainya di simpang pos, hari sudah gelap, dan kami berhenti menunggu instruktur lain yang sednag dalam perjalanan. Setelah semua berkumpul di satu bus, kami di antar oleh bus yang sama sampai ke sekretariat organisasi. Sesampainya di sana, di adakan evaluasi dengan seluruh instruktur dan senior. Kurang lebih pukul sembilan kurang, kami selesai melakukan kegiatan lapangan dan di izinkan pulang dengan tugas baru yaitu membuat laporan. Tapi itu adalah cerita berikutnya, yang setidaknya, kegiatan lapangan yang sebenarnya telah berhasil di lewati, dan seperti kata kebanyakan senior kami, ‘perjalanan yang berhasil bukan perjalanan sampai kepuncak, tapi saat yang pergi dapat kembali pulang dengan selamat dan tanpa kekurangan sesuatu apapun’. Maka, dengan kategori itu, perjalanan pertama kami telah berhasil.

Record 1 (1/2) - Catatan Perjalanan Calon Anggota


Tugas Pertama

Pengalaman pertama. Di dunia ada 1001 hal hal yang belum pernah bersentuhan langsung dengan cerita kehidupan remaja yang beranjak dewasa. Dan hanya dalam beberapa hari, tumpukan pengalaman baru itu menenggelamkan remaja remaja yang berani bertaruh dan memilih berjalan di bawah naungan Kompas yang sebenarnya.
8 Maret 2018, kamis sore. Keenam calon anggota yang bertahan dengan bayangan teman teman lainnya di ingatan masing masing heboh memenuhi Carier 60 liter mereka di awasi mata mata senior yang pastinya tak hanya sekedar mengawasi, tetapi juga menilai dan memastikan. Setelah selesai berkutat dengan barang pribadi dan kelompok masing masing, dan pakaian lapangan yang kebanyakan masih baru sehingga kaku membalut tubuh kami menandakan kami siap di karantina.
Karantina yang dimaksud tak lebih adalah pertanda bahwa kehidupan pecinta alam yang sebenarnya akan di mulai sejak malam itu. Dan benar saja, kami berenam di haruskan menginap saat karantina bukan berarti akan tidur enak di bangunan sederhana yang menjadi sekretariat KOMPAS-USU. Melainkan, akan merasakan bagaimana rasanya tidur di tempat sederhana dari ikatan jas hujan beralaskan matras yang hanya muat untuk satu orang. Tidur di Bivak sebenarnya, di luar ruangan, dengan angin malam yang sama sekali tak sejuk, nyamuk nyamuk yang semalaman berdesing bising mungkin karena merasa kami adalah santapan yang tak akan terhabiskan, dan kenyamanan yang entah ada di mana bahkan setelah lelah yang tak terdefinisikanpun tak bisa memaksa tubuh terlelap cepat. Berulang kali terbangun, berguling kesana kemari, beberapa kali saling berbisik antar teman memastikan bukan hanya diri sendiri yang terjaga dan tersiksa dengan waktu yang terasa jauh lebih lama malam itu.
Akhirnya pagi menjemput, dan tak perlu memaksa masing masing dari kami untuk bersegera keluar dari tempat tidurnya. Berbenah, olahraga dan sarapan. Urusan pribadi kemudian siap dengan cepat mengejar pagi yang semakin terang. Piket dan Upacara formal pelepasan para calon anggota dan instrukturnya di adakan bersamaan langit yang mulai menggelap dan lama kelamaan benar benar menurunkan hujannya. Apakah kami menyedihkan? Atau malah kami sedang di limpahi rezeki? Hujannya sedikit berlebihan, tapi benar benar merepotkan.
Berjalan berbaris dengan langkah panjang dan cepat, beban yang menjulang tinggi di antara raincoat di punggung masing masing dari kami cukup membuat semua orang menatap keheranan atau ya setidaknya kami memang objek yang tak bisa di abaikan. Tak butuh lama, dengan sebuah angkot kami berhasil sampai di terminal bus menuju lokasi yang sebenarnya. Di dalam angkot itu sebenarnya juga ada cerita menyedihkan yang terselip, seorang kakak yang awalnya hanya sendirian dan harus menerima nasib terjepit di antara beban dan kami yang basah dan entah karena pakaian kami semua terasa besar besar dan menyesakkan. Sejak menyadari keberadaannya, aku berdoa semoga urusannya hari itu di mudahkan karena ketidaknyamanannya selama 15 menit berdesakan bersama kami…
Naik Bus, tak ada yang spesial, lebih lebih sepertinya bus yang super biasa itu tiba tiba jauh lebih nyaman untuk tidur mengingat semalaman tak ada satupun dari kami yang bisa terlelap nyenyak. Perjalan yang hanya satu setengah jam kurang lebih cukup membuat kami semua nyenyak, keenam enamnya, tidur!
Sampai di simpang tongkoh yang di tandai tugu jeruk di pertigaan jalan raya, kami turun. Suhu telah berubah dingin, kami di daerah yang berbeda, dan sudah di kota yang berbeda pula. Perjalanan lapangan sebenarnya di mulai, masing masing mengangkat bebannya dan berbaris berjalan cepat mengikuti kakak kakak instruktur menapaki jalanan yang semakin ke dalam semakin kecil.
Bukan jalan beraspal, hanya tanah berbatu, becek, dan beberapa sampah di antara lahan dan rumah. Kabut yang seakan menari nari di udara membatasi pandangan liat ke enam calon anggota yang sebenarnya tak benar benar perduli dengan pemandangan sepertinya, beban di punggung sudah cukup berat membuat semuanya menunduk fokus untuk berjalan cepat dan tidak merusak barisan.
Hanya lahan perkebunan, geraja, deretan rumah penjual bunga dan kebun lagi. Lintasan kami mengarah ke perbukitan di kaki gunung yang di penuhi lahan perkebunan. Kami berhenti di rumah terakhir di ujung jalan yang paling dekat dengan semak semak pertanda hutan. Itu adalah tempat peristrirahatan pertama, masih belum tengah hari, kami di bebaskan sekaligus di tugaskan untuk bepergian bertemu warga desa. Tugas pertama di lapangan, Sosiologi pedesaan! Melepaskan beban berat dari punggung saja sudah sangat melegakan, saat ini kami di beri waktu secara tidak langsung untuk jalan jalan dan berkenalan, maka ini adalah kegiatan pertama dan yang paling menyenangkan untukku secara pribadi.
Dua kelompok yang terdiri dari masing masing tiga anggota, di ikuti dua orang instruktur yang juga mendokumentasikan apa saja yang akan kami lakukan, dan aku, ada di kelompok 2. Kedua kelompok di minta menyebar, untuk menambah variasi informasi dan sepertinya juga berguna agar tak terlihat seperti anak anak yang memang sedang melakukan penelitian dari pada sedang bersosialisasi.
Pertama tama kami berjumpa dengan bapak pemilik rumah peristirahatan pertama, bukan rumah sebenarnya, hanya pondokan perkebunan tempat beristirahat. Berbincang sesaat kemudian kami berjalan lagi. Tak banyak warga yang melintas, sehingga siapa yang berselisih dapat di ingat dengan mudah. Yaitu seorang bapak paruh baya dengan gerobak dorong merah. Hanya bertegur sapa, sepertinya sedang sibuk. Berjalan lagi, dan mendapati seorang ibu ibu yang lebih tua dari warga sebelumnya, berjalan tergopoh gopoh dengan dua keranjang. Kelompok sebelumnya melewatkannya, tapi ini kesempatan untuk kami.
Ketika anak gadis bertemu ibu ibu, ada hubungan yang dengan mudah di ciptakan, setelah menegur dengan antusias yang lebih bersemangat, ibu itu ternyata ingin ke kebun, dengan nada memohon, aku meminta izin ikut dan ibu itu menerima tanpa penolakan. Berhasil! Salah satu keranjangnya ku bawakan, dan kami berputar arah karena sebelumnya ibu itu memang berjalan kearah asal kami. Dan benar saja, kami kembali ke kebun pertama saat bertemu dengan bapak pemilik pondok peristirahatan. Ternyata, ibu ini adalah saudara si bapak, abang abang yang tadinya juga menegur kami dengan si bapak ternyata adalah anak dari ibu itu. Bahkan, kami juga menjumpai bapak bapak dengan gerobak merah di kebun yang sama sedang berbincang dengan putra ibu itu. Jackpot! Serasa mendapat paket kejutan.
Di mulai dari basa basi memperkenalkan diri dan menceritakan bahwa kami yang bertiga itu adalah anak anak yang baru pertama kali menginjakkan kaki di desa itu, tak tau apa apa, dan berharap tak akan mengganggu waktu bapak ibu bekerja dengan keingintahuan kami yang benar benar hampir tak terbendung, hasratnya sudah ingin mewawancarai, tapi tentu saja itu tak sopan.
Setelah cukup banyak berseda gurau dan basa basi, beberapa informasi dasar mulai terucap, di timpali pertanyaan pertanyaan yang masih bertopik sama, perlahan tapi pasti, jumlah kami yang sama banyak dengan narasumber benar benar berguna karena pada akhirnya, kami mulai berbicang secara pribadi berdua berdua dengan ketiga narasumber.
Aku, bersama bapak berinisial lm yang sebenarnya adalah pendatang dan mendapatkan belahan hatinya di desa itu, menetap setelah jauh sebelumnya ternyata berpengalaman melintasi hampir separuh Indonesia karena bekerja di lautan. Daerah tempat tinggalnya sewaktu kecilpun kebetulan sama denganku, Tanjung Balai. Kota kerang pesisir pantai yang membuat perbincangan kami jauh lebih dekat. Informasi seputar pendatang dan keadaan desa sampai gunungnya banyak ku dapat dari si bapak. Dia masih cukup muda untuk bercerita dengan jelas dan dengan ingatan yang jelas pula.
April, anggota termuda kami mengikuti ibu yang membawa kami kesini, sebut saja ibu n, April dan siibu memetik buah strawberry yang sudah matang. Ya, si ibu memang pemilik kebun strawberry dan termasuk pemilik kebun yang paling tua di daerah itu. Dari si ibu banyak informasi dasar tentang desa juga, walau beberapa informasinya sedikit bias karena si ibu lupa nama atau waktunya.
Amar, ketua kelompok bersama putra si ibu, inisialnya sama seperti Amar, sebutlah bg a, sejak pertama kami datang dia sibuk dengan biji biji kopi yang juga di tanam di sana. Si abang banyak menceritakan tentang keadaan Deleng Barus, gunung yang sebenarnya adalah tujuan utama kami. Dia mengaku, pernah mendaki kesana sendiri dan meletakkan bendera di puncaknya, tapi sayang, bendera itu tak terlihat dari bawah…
Setelah banyak berbincang, kami mohon undur diri mengingat waktu kami terbatas dan kami masih membutuhkan lebih banyak narasumber dan informasi karena sebenarnya kami memang sedang bertugas, bukan hanya jalan jalan saja. Sebelum lebih jauh, kami makan siang bersama kelompok lain. Saling berbagi informasi dan mereka lebih dulu pergi karena masih membutuhkan lebih banyak narasumber, mereka ternyata baru mendapat satu narasumber sedangkan kami tiga, mereka harus lebih bergerak cepat.
Berhubung itu adalah hari Jum’at, akhirnya kedua anggota pria yang kami miliki dari kedua kelompok memutuskan untuk pergi menunaikan ibadah Sholat Jum’at sedangkan tugas di serahkan pada para wnitanya saja. kami memilih arah jalan yang berbeda lagi, aku dan April segera turun ke daerah yang lebih ramai pemukimannya. Sekali dua kali gagal menarik hati warga, sampai akhirnya kami bertemu dengan seorang ibu muda yang sedang duduk di halaman bersama bayi kecilnya yang  rising kurang enak badan menhadapi suaminya membersihkan lahan setapak di antara pepohonan.
Kami duduk di dekatnya, beberapa kali di datangi anak anak karena daerah itu adalah pemukiman warga yang jauh lebih ramai khususnya dengan anak anaknya. Setelah berkenalan, ibu itu atau lebih nyaman di panggil kakak ternyata juga seorang pendatang, penjual bunga yang berasal dari kota Medan. Pasangannya juga pendatang, tapi keduanya memilih menetap di desa karena mengaku lebih mudah hidup di desa itu dari pada di kota. Perbincangan kali ini lebih singkat, tapi informasi yang kami butuhkan dapat. Segan mengganggu lama karena bayi si kakak sedang kurang enak badan, dan akhirnya kamipun undur diri.
Mencoba mencari cari apa yang bisa di cari, kami mengitari pemukiman desa dan akhirnya berjalan bersama seorang nenek yang ramahnya luar biasa. Dia mengantar kami sampai ke jalan raya dan menunjukkan rumahnya, sempat menawari untuk singgah, tapi waktu kami tak banyak. Dari pada mengantar kami, sepertinya kamilah yang mengantar nenek itu karena akhirnya kami malah pulang dengan jalan yang sama seperti saat pergi untuk menghindari melintasi rumah si nenek dan membuatnya memaksa kami untuk bersinggah lagi sedangkan kami tak sempat.
Merasa informasi cukup, kami segera kembali ke tempat peristirahatan pertama, di jalan kami berjumpa dengan dua anggota kelompok lain dan memilih kembali bersama. Kami juga perlu melaksanakan Ibadah Sholat karena waktu yang di sediakan sudah hampir habis. Dan akhirnya setelah para pria kembali, waktunya Presentasi hasil sosiologi pedesaan kami.
Presentasi sederhana itu di lakukan pukul 2 siang masih di hari yang sama di lahan sekitar pondok. Kedua kelompok bergantian presentasi di wakili satu orang dan langsung mendapat tanggapan serta evaluasi dari instruktur atas kekurangan dan kesalahan yang kami perbuat di pengalaman pertama kami melakukan sosiologi pedesaan.
Dan untuk pengalaman pertama, sedikit kesalahan masih bisa di toleransi dan di harapkan bisa lebih baik di praktek berikutnya. Tugas pertama selesai.

Untuk Calon Mahasiswa


Calon Mahasiswa,

Mahasiswa, artinya seseorang yang aktif belajar dan terdaftar di sebuah perguruan tinggi.
hampir semua orang mau atau juga terpaksa melalui masa masa menjadi seorang Mahasiswa,
entah itu sebagai keinginan pribadi, atau keharusan dan kewajiban semata.
tapi seperti kebanyakan orang, menjadi mahasiswa selalu bersisian dengan dilema,
tentang jurusan apa, kuliah dimana, dan bagaimana cara masuknya.

Untuk yang terakhir di atas adalah sesuatu yang sebenarnya di luar dari kuasa setiap calon itu sendiri,
bagaimana mereka bisa masuk ke dalam sebuah perguruan tinggi dan menjadi bagian dari sana adalah rahasia ilahi yang sesuangguhnya.
tak ada yang bisa menjamin apapun,
toh, tak semua orang pintar lulus dengan mulus,
tak semua orang bodoh tak lulus dengan memalukan,
maka jangan langkahi Tuhan.

Tapi dari pada itu, sebenarnya semua akan kembali pada bagaimana kau memulai pilihan mu dan niat utama mu sebagai seorang calon mahasiswa.

kita sering mendengar ucapan, usaha tak akan membohongi hasil.
tapi di luar itu, niat juga berperan penting.
percayakah dirimu jika niat yang baik akan menghasilkan hasil yang baik,
dan niat yang buruk biasanya selalu menjadi awal dari hitamnya masa depan,

Tak ada yang bisa menjamin apapun,
hanya Tuhan yang tahu apa masa depan setiap manusia.
tapi apa niatmu?
apa niatmu menjadi seorang mahasiswa,
apa tujuanmu,
bagaimana usahamu,
dan Tuhan akan mengatur sisanya.

ini tentang anak anak yang masih bingung dengan apa tujuan hidup mereka
tentang mereka yang juga selalu bimbang dengan perkataan orang orang dewasa dan orang orang sekitarnya
tentang mereka yang selalu takut dengan masa depan dan hal hal yang belum pernah di cobanya.

dan ini tentang perkuliahan hei calon mahasiswa.
perkuliahan berbeda dengan sekolah,
tak akan ada yang memaksamu belajar jika kau tak mau belajar,
tak akan ada pehitungan rangking dan sebagainya sampai kau tak benar benar perduli dengan siapa murid yang paling pintar dan siapa yang paling bodoh.

di setiap perkuliahan, semester satu akan menjadi semester perkenalan,
tak akan dibiarkan kau bodoh sendirian.
tapi kembali pada niatan,
ketika perkuliahan itu menjadi begitu mudah tapi kau tak menyukainya sejak awal,
maka jenuhlah yang akan kau dapatkan.
ketika perkuliahan itu sesulit menelan belut mentah di dalam mulutmu tapi kau memang menginginkannya sejak awal,
maka belut itu perlahan akan menjadi daging panggang yang sedikit alot tapi begitu mengenyangkan.

apa kau percaya mimpi itu bisa jadi nyata,
dan dunia orang dewasa itu begitu mengerikan.
maka saat menjadi mahasiswa kau bisa melihat segala realita dengan sungguh sungguh,
ketika kau bermalas malasan, maka tak akan ada seorang guru yang menaikkan nilaimu,
jika kau begitu rajin juga tak akan ada teman yang dapat melangkahi peringkatmu secara ajaib.

Perkuliahan adalah tentang belajar dengan waktu yang absolut dan seragam warna warni.
menikmati belajar atau mengabaikannya pun tak mengapa.
dan tentang apa yang kau inginkan setelahnya,
cita cita atau hanya sekedar mencari kerja
memenuhi kewajiban atau sekedar gelar sarjana saja
menjadi yang kau inginkan atau yang orang orang pintakan

maka jadilah apa yang mampu kau jalani dan mau kau usahakan.
karena kehidupan pada akhirnya hanya tentang itu,
tentang apa yang INGIN dan MAMPU kau jalani
tentang apa yang MAU dan HARUS kau usahakan.
tak akan ada yang menyulangimu makanan atau nilai seperti saat kau bayi atau masih pelajar,
semua mulai dewasa begitupun realita,
selamat datang di dunia yang kejam,
jangan jadi lemah karena Dunia akan menenggelamkanmu sebelum kau bisa menarik nafas.

The Ma


Aku jatuh cinta setiap hari,
Pada pria yang berbeda,
Lagi dan lagi,

Tapi saat malam tiba,
Aku menangis lagi,
Hanya untuk kematian yang sama,
Padahal hanya sekali.

Tentang cinta pertama yang bukan cinta pertama
Tentang cinta utama yang juga bukan cinta utama
Tentang dia yang di cinta tapi tak mencinta
Tentang dia yang kemudian mati dengan cinta
Tapi bukan aku cintanya-

Aku tertawa setiap hari,
Pada setiap momen yang ada,
Dengan matahari di langit,

Tapi saat malam tiba,
Aku menangis lagi,
Entah kenapa
Aku tak yakin apakah untuk kematian yang sama
Padahal sudah lama,

Tentang penyesalan yang di adakan
Tentang kesengajaan yang tak disengajakan
Tentang kesalahan yang juga tak pernah ada, kan
Tapi aku ada punya kesalahan, kan-

Aku bersama Tuhan setiap hari,
Pada setiap saat yang ku ingat,
Dengan dosa yang tetap melekat,

Tapi saat malam tiba,
Aku tersesat
Masih tersesat
Entah karena apa
Entah karena kematian yang sama
Padahal tak akan bisa apa apa

Tentang Tuhan yang selalu ada
Tentang hamba yang penuh dosa
Tentang manusia yang merindu surga
Tapi berjodoh dengan neraka-

Aku manusia setiap hari,
Biasa saja
Tapi berbeda
Ingin istimewa-

Minggu, 18 Maret 2018

Eayan (Aye)


Image result for fun art mata dua warna

Saat kau lahir, mata mu tercipta untuk melihat dunia. Mata mu, dicipta untuk melihat segalanya kecuali dirimua sediri. Perlahan lahan, setelah beberapa waktu hidup, menusia akan mampu melihat seluruh tubuhnya sendiri. Beberapa dapat melihat rambutnya, tapi dari leher sampai ubun ubun kepala, tanpa cermin, tanpa bantuan sesuatu yang lain, adakah yang dapat melihat wajahnya? Lehernya? Atau yang paling mendasar, bentuk dari mata yang melihat segalanya. Adakah yang dapat melihatnya? Tidak.

Kita di ciptakan dengan satu sudut pandang, kita bahkan tak bisa melihat objek lebih banyak dari pada seekor kadal atau unggas nocturnal yang dapat memutas bola matanya lebih banyak dari pada manusia. Tapi dari pada itu, bukankah saat ini hal itu bukan masalah. Sudah ada cermin dan segala macam benda untuk dapat melihat bagaimana rupamu yang tak pernah bisa dilihat sendiri.
Tapi apakah itu artinya masalah itu terpecahkan? Atau sebenarnya itu bukanlah masalah? Atau itu semua memang sesuatu yang tak pernah ada artinya.

Sering di katakan, seseorang akan lebih baik saat menyelesaikan masalah orang lain dari pada 
masalah dirinya sendiri.

Juga sering di rasakan, milik orang lain, kelebihan orang lain, keburukan orang lain, dan orang lain selalu lebih di sadari keberadaan kurang dan lebihnya, dari pada milik sendiri.
Bukan seekor semut yang terlihat di ujung lautan, bukan juga gajah yang tak terlihat di pelupuk mata. Ini adalah tentang, apa yang memang hanya bisa di lihat dengan mata, apa yang bisa di lihat oleh manusia pada dasarnya.

Bahwa, manusia akan lebih mampu melihat sesuatu yang bukan ada di dalam dirinya.
Apa ada yang menyadari kesamaan antara sudut pandang dan persepsi yang begitu mirip namun berbeda?!

Aku menyadarinya, ketika aku tumbuh dan hidup penuh cinta dan kasih terhadap apapun bahkan benda mati sekalipun. Aku selalu merasa, bahwa benda benda mati pada dasarnya hidup, dan akan bersedih saat kau meletakkannya setelah melihat lihatnya saja di lemari supermarket, atau malah mengambil barang yang lain yang lebih bagus setelah puas melihat lihatnya dan memegang megangnya. Adakah yang pernah berfikir seperti ini? secara tak langsung, kita selalu memberi harapan palsu pada benda pertama yang ingin kita beli, dan pada akhirnya membeli benda yang lain, yang sama, namun lebih bagus, dan belum di pegang. Jika benda itu hidup, pernahkan kau merasakan betapa sedihnya dia?

Sejak kecil aku juga tak pernah menemukan hewan yang membuat aku marah. Sejauh ini, sekalipun hiu dan harimau bahkan buaya adalah makhluk yang sejujurnya bisa di katakan yang paling jahat terhadap sesama hewan, tapi kurasa itu adalah hal yang memang telah ada jalannya. Bukankah itu takdir mereka? Jadi apa yang harus mereka makan? Daun?! Jika membahas ini lebih lanjut maka manusialah yang akan menjadi makhluk paling mengerikan karena memakan segalanya~

Antara orang tua dan anak kecil, aku memang selalu lebih menyukai orang tua. Anak anak menurutku hanya makhluk makhluk yang tak tau apa yang sedang mereka lakukan dan mereka hanya bisa bersenang senang. Itu juga bukan salah mereka, karenanya aku lebih memilih menjauhi sesuatu yang tak bisa ku salahkan takdirnya. Ada masanya mereka akan tumbuh dan jadi makhluk yang lebih berguna selain dari pada menyusahkan dan merepotkan orang orang di sekitar mereka.

Penjahat, pembunuh, pengguna obat obatan, bahkan orang orang berprilaku menyimpang. Aku bisa memberikan toleransi besar terhadap apapun yang mereka lakukan. Walau ada beberapa orang yang memang lebih baik mati dari pada hidup dan menyengsarakan, bukankah semua orang punya sisi jahat dan baik. Maka aku selalu menerima alasan prilaku seseorang sejahat apapun dia, tapi tentu dengan tidak membenarkan apa yang dia lakukan juga.

Tapi, saat ku sadari, pada akhirnya aku bisa membenci sesuatu, ketika aku benar benar tak bisa menemukan alasan yang cukup untuk membuatku mengerti, ketika aku benar benar telah memvonisnya sebagai sesuatu yang salah, maka itu ternyata adalah bagian dari milikku.
Sesuatu yang masih memiliki aliran darah yang sama denganku. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, kurasa di luar sana masih banyak makhluk yang lebih buruk darinya, dan dia bahkan termasuk yang memiliki banyak kelebihan lainnya dari pada kekurangannya, tapi, aku berhasil membencinya. Artinya, apapun alasannya, apapun kelebihannya, aku tak menerimanya.
Apakah itu artinya, aku memang tak bisa melihat milikku dengan benar, seperti aku yang hanya bisa melihat wajahku dari kaca maka aku tetap bisa melupakan wajahku tanpa bantuannya sedangkan wajah siapapun dapat dnegan mudahnya terekam di memoriku karena aku melihatnya secara langsung.

Apakah persepsi manusia juga seperti itu? Itukah alasannya maka semua orang selalu hanya bisa menghargai sesuatu jika dia telah kehilangan? Artinya dia baru menyadari dia pernah memiliki, tapi dia tak bisa merasakannya saat ada karena tak bisa melihatnya dengan benar, dan ketika hal itu hilang, barulah dia benar benar bisa mengingat dia pernah memilikinya?!

Bagaimana, jika seseorang merasa yakin bahwa dia tak akan menyesal, bahwa sesuatu itu di anggap benar benar buruk, tapi orang lain akan berfikir sebaliknya. Mereka bisa melihat dari sudut pandang berbeda, seperti saat aku melihat hal buruk pada mereka dengan sudut pandang mereka. Maka, apakah manusia benar benar tak bisa melakukannya sendiri?

“penyesalan itu selalu datang belakangan”

Apakah pribahasa itu abadi? Seperti saat kau meraba dan mengingat seluruh fitur di wajahmu, tapi jika kau bukan orang buta, atau tak benar benar melihatnya dengan cermin, kau tak akan bisa membayangkan bagaimana bentuknya bukan. Maka, kau hanya akan menyadari bahwa kau memiliki telinga yang bagus setelah kau kehilangannya walaupun kau tak bisa melihat bentuknya. Kau juga pasti akan tetap menangis ketika seluruh kulit wajahmu terbakar dan menggerutu walau sebelumnya kau tak bisa melihat tapi bisa merasakan halusnya. Kau mungkin juga akan menyadari betapa anehnya hidungmu jika dia tak berlubang lagi walau sebelumnya kau tak bisa benar benar melihat hidungmu yang utuh.

Maka, haruskan hilang dulu? Haruskan berubah dulu? Haruskan menyesal kemudian?
Ku fikir, menerima apa adanya sesuatu yang kau miliki bukanlah persoalan mudah. Karenanya, jika itu adalah solusi terakhir, maka ini perkara sulit.

Seperti halnya, sinar terang matahari tak selamanya mampu menjamin tak akan ada hujan, karena hujan di panas hari juga tetap ada~. Manusia, dengan segala kelebihannya dan kerendahan hatinya masih bisa membenci dan marah. Manusia dengan segala yang dia bisa masih bisa gagal. Bahkan jika Tuhan yang melarang, manusia masih mampu melakukan dosa.

Manusia adalah makhluk terkejam dan tanpa batas, manusia adalah badai yang mampu bawa kehancuran dan keindahan pelangi secara bersamaan. Manusia dapat menangis karena segala hal, dan dapat terdiam walau makhluk paling lucu di muka bumi ada di hadapannya. Manusia adalah makhluk yang paling sanggup melewati batasannya. Manusia adalah sesuatu yang luar biasa apalagi Tuhannya.

Dan akhirnya, aku hanya sedang menegaskan, aku sedang membenci sesuatu yang tak bisa ku lihat sisi baiknya dengan mata yang hanya bisa melihat ke luar, bukan kedalam. Aku sedang tak menghargai apa yang ada padaku, mungkin karena aku belum kehilangan. Dan aku sedang membanggakan kekuranganku yang semua orang juga seharusnya begitu.

Benarkan?

Benarkah?!

Rabu, 07 Februari 2018

Arahnya Kompas

               
Korps Organisasi Mahasiswa Pecinta Alama Universitas Sumatera Utara- KOMPAS-USU- Berdiri dari tahun 1980 tepatnya tanggal 6 oktober bersamaan keluarnya SK dan di anggap sebagai hari lahir resmi dari KOMPAS-USU  yang berawal dari ide beberapa orang mahasiswa USU berbeda fakultas, : Juharman Arifin MIPA; Josmeri Surbakti, Suprayitno Srie Kusumo dan Partohonan Silitonga dari Teknik; Syarifuddin Munir dan Wahidin yasin Ekonomi; Hardy Guchi Pertanian; dan Martin Rustami Hukum.

Orang awam, entah itu mahasiswa atau bahkan orang lain yang tak berhubungan langsung dengan USU sendiri mungkin sangat mudah untuk melihat informasi siapa KOMPAS-USU itu sebenarnya. Pecinta Alam yang seperti apakah KOMPAS-USU itu sebenarnya. Apa perbedaan mereka dengan Pecinta alam lain yang ada di luar sana.

Tapi, tentu saja informasi lewat internet atau hanya dari mulut kemulut tak lebih hanya sekedar hiasan luar dari sepaket KOMPAS-USU yang tak bisa hanya di lihat saja. Sebagai salah satu Organisasi besar dan tua, banyak cerita dan buah bibir yang menyebar kemana mana. Jujur saja, kebanyakan anak anak baru akan mengatakan kalau organisasi satu ini adalah organsasi yang jauh dari kata mudah. Bahkan sangat menyulitkan! Selain masa orientasi yang katanya imbang dengan Paskibraka –saya pernah mendengar langsung- ditambah lagi kegiatan yang luar biasa menyulitkan –katanya…

Saya, adalah salah seorang Calon Anggota KOMPAS-USU tahun 2018. Saat ini, sedang dalam masa Orientasi tahap kedua ‘sepertinya’ setelah wawancara.
Sebelumnya, saya adalah seorang mahasiswi jalan dua tahun di USU dengan latar belakang sama sekali tak mengenal alam selain hanya mencintainya dari diri sendiri saja. Jika di Tanya mencintai Alam, mungkin cara mencintai saya berbeda. Saya hanya mencintai tanpa menyatakan mungkin, karena tak pernah bisa terjun kea lam langsung, tak mengenal tumbuh tumbuhan, dan tak pernah aktif dalam kegiatan berbau alam. Bisakah saya di katakana pecinta alam? Yah, itu hanya saya dan Tuhan saja lah yang tau apakah saya mencintai Alam dan bumi saya atau tidak.
Latar belakang saya yang seorang amatiran bahkan buta tentang alam ini terkadang sering membuat saya jauh di belakang teman teman yang juga calon anggota tapi pengetahuannya sudah jauh di atas saya.
Terkadang, saat instruktur member materi dan menunjukkan gambar atau menceritakan pengalaman, saya seperti anak kecil yang sedang melihat orang dewasa yang hebat, karena, mungkin bagi orang orang yang sudah biasa itu ya biasa saja, orang orang juga bisa, banyak pendaki dan travelers yang sudah kemana mana, tapi bisa saya, itu luar biasa. Bahkan membayangkan hutan sesungguhnya saja sudah membuat saya tersenyum sendiri, membayangkan bisa berhasil sampai ke puncak itu seperti mimpi.

Kurang lebih 8 hari, di tambah beberapa kali TM dan Wawancara. Walaupun masih berada di kulit terluar, apa yang namanya KOMPAS itu mulai terlihat titik terangnya bagi saya yang hanya orang awam.

Organisasi yang katanya berat itu, YA! BENAR!

Orientasi yang katanya berat itu, YA! BENAR!

Kegiatan yang katanya berat itu, YA! BENAR!

TAPI! Dengan segala keberatan yang bertumpuk tumpuk itu, ada banyak hal yang mungkin juga tak semua orang tau. Dan hanya bisa tau jika mereka mungkin sesama pecinta Alam, yang hanya bisa di ketahui ya setidaknya harus dekat dengan salah satu anggota resminya, atau ya dengan cara terakhir, MENJADI ANGGOTANYA.

Dimulai dari pengetahuan, pengetahuan mereka tentang alam bisa di bilang bukan main main, Keselamatan dan kemampuan mereka, saya banyak melihat instruktur yang bertubuh kecil, yang sepertinya untuk menopang tas gunung kapasitas 60 Liter itu tidak mungkin! Tapi sepertinya, yang tidak mungkin itu adalah mereka tidak mungkin tidak sanggup..! Kegiatan mereka yang utama! Mulai dari mencari ilmu sampai bersosialisasi, di tambah loyalitas dan andil dalam bencana. Untuk saya ini satu yang paling utama.

Jika ada yang bilang, anggota kompas itu kejam, tepatnya Tegas! Bagaimana caranya melewati Hutan kalau harus jadi manusia yang Menye menye~

Jika ada yang bilang, Orientasinya itu kelewatan, tepatnya Ketat! Itu semua demi anggota yang harus sesuai setidaknya mencapai standar organisasi, itu namanya Organisasinya punya standar yang tinggi, kalau anggotanya punya standar, organisasinya tak perlu dipertanyakan.

Saya bukan anggota, ini hanya opini orang awam yang baru mengetuk kulit terluar sebuah organisasi pecinta alam yang selama ini tak pernah saya kenal.
Kalau tak percaya, maka kepercayaan itu adalah sesuatu yang harus di cari. Sebuah kepercayaan adalah hasil kebenaran yang terbukti. Dan inilah kebenarannya, organisasi yang untuk saya pribadi sangat sangat sulit, tapi terlihat begitu berbeda.
Seakan, sebelum saya benar benar berhasil bisa mendaki sebuah gunung, saya masih harus mendaki organisasi ini dulu. Jika saya tak berhasil mendakinya, maka saya tak akan pernah mencapai gunung yang sebenarnya.

Catatan sederhana dari seorang calon anggota yang punya dunia berbeda
Bukan Fake Good
Tapi seorang gadis yang sedang jatuh cinta dan mencoba meraih cintanya