Saat kau lahir, mata mu tercipta untuk melihat dunia. Mata
mu, dicipta untuk melihat segalanya kecuali dirimua sediri. Perlahan lahan,
setelah beberapa waktu hidup, menusia akan mampu melihat seluruh tubuhnya
sendiri. Beberapa dapat melihat rambutnya, tapi dari leher sampai ubun ubun
kepala, tanpa cermin, tanpa bantuan sesuatu yang lain, adakah yang dapat
melihat wajahnya? Lehernya? Atau yang paling mendasar, bentuk dari mata yang
melihat segalanya. Adakah yang dapat melihatnya? Tidak.
Kita di ciptakan dengan satu sudut pandang, kita bahkan tak
bisa melihat objek lebih banyak dari pada seekor kadal atau unggas nocturnal yang
dapat memutas bola matanya lebih banyak dari pada manusia. Tapi dari pada itu,
bukankah saat ini hal itu bukan masalah. Sudah ada cermin dan segala macam
benda untuk dapat melihat bagaimana rupamu yang tak pernah bisa dilihat
sendiri.
Tapi apakah itu artinya masalah itu terpecahkan? Atau sebenarnya
itu bukanlah masalah? Atau itu semua memang sesuatu yang tak pernah ada
artinya.
Sering di katakan, seseorang akan lebih baik saat
menyelesaikan masalah orang lain dari pada
masalah dirinya sendiri.
Juga sering di rasakan, milik orang lain, kelebihan orang
lain, keburukan orang lain, dan orang lain selalu lebih di sadari keberadaan
kurang dan lebihnya, dari pada milik sendiri.
Bukan seekor semut yang terlihat di ujung lautan, bukan juga
gajah yang tak terlihat di pelupuk mata. Ini adalah tentang, apa yang memang
hanya bisa di lihat dengan mata, apa yang bisa di lihat oleh manusia pada
dasarnya.
Bahwa, manusia akan lebih mampu melihat sesuatu yang bukan
ada di dalam dirinya.
Apa ada yang menyadari kesamaan antara sudut pandang dan
persepsi yang begitu mirip namun berbeda?!
Aku menyadarinya, ketika aku tumbuh dan hidup penuh cinta
dan kasih terhadap apapun bahkan benda mati sekalipun. Aku selalu merasa, bahwa
benda benda mati pada dasarnya hidup, dan akan bersedih saat kau meletakkannya
setelah melihat lihatnya saja di lemari supermarket, atau malah mengambil
barang yang lain yang lebih bagus setelah puas melihat lihatnya dan memegang
megangnya. Adakah yang pernah berfikir seperti ini? secara tak langsung, kita
selalu memberi harapan palsu pada benda pertama yang ingin kita beli, dan pada
akhirnya membeli benda yang lain, yang sama, namun lebih bagus, dan belum di
pegang. Jika benda itu hidup, pernahkan kau merasakan betapa sedihnya dia?
Sejak kecil aku juga tak pernah menemukan hewan yang membuat
aku marah. Sejauh ini, sekalipun hiu dan harimau bahkan buaya adalah makhluk
yang sejujurnya bisa di katakan yang paling jahat terhadap sesama hewan, tapi
kurasa itu adalah hal yang memang telah ada jalannya. Bukankah itu takdir
mereka? Jadi apa yang harus mereka makan? Daun?! Jika membahas ini lebih lanjut
maka manusialah yang akan menjadi makhluk paling mengerikan karena memakan
segalanya~
Antara orang tua dan anak kecil, aku memang selalu lebih
menyukai orang tua. Anak anak menurutku hanya makhluk makhluk yang tak tau apa
yang sedang mereka lakukan dan mereka hanya bisa bersenang senang. Itu juga
bukan salah mereka, karenanya aku lebih memilih menjauhi sesuatu yang tak bisa
ku salahkan takdirnya. Ada masanya mereka akan tumbuh dan jadi makhluk yang
lebih berguna selain dari pada menyusahkan dan merepotkan orang orang di
sekitar mereka.
Penjahat, pembunuh, pengguna obat obatan, bahkan orang orang
berprilaku menyimpang. Aku bisa memberikan toleransi besar terhadap apapun yang
mereka lakukan. Walau ada beberapa orang yang memang lebih baik mati dari pada
hidup dan menyengsarakan, bukankah semua orang punya sisi jahat dan baik. Maka aku
selalu menerima alasan prilaku seseorang sejahat apapun dia, tapi tentu dengan
tidak membenarkan apa yang dia lakukan juga.
Tapi, saat ku sadari, pada akhirnya aku bisa membenci
sesuatu, ketika aku benar benar tak bisa menemukan alasan yang cukup untuk
membuatku mengerti, ketika aku benar benar telah memvonisnya sebagai sesuatu
yang salah, maka itu ternyata adalah bagian dari milikku.
Sesuatu yang masih memiliki aliran darah yang sama denganku.
Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, kurasa di luar sana masih banyak
makhluk yang lebih buruk darinya, dan dia bahkan termasuk yang memiliki banyak
kelebihan lainnya dari pada kekurangannya, tapi, aku berhasil membencinya. Artinya,
apapun alasannya, apapun kelebihannya, aku tak menerimanya.
Apakah itu artinya, aku memang tak bisa melihat milikku
dengan benar, seperti aku yang hanya bisa melihat wajahku dari kaca maka aku
tetap bisa melupakan wajahku tanpa bantuannya sedangkan wajah siapapun dapat
dnegan mudahnya terekam di memoriku karena aku melihatnya secara langsung.
Apakah persepsi manusia juga seperti itu? Itukah alasannya
maka semua orang selalu hanya bisa menghargai sesuatu jika dia telah
kehilangan? Artinya dia baru menyadari dia pernah memiliki, tapi dia tak bisa
merasakannya saat ada karena tak bisa melihatnya dengan benar, dan ketika hal
itu hilang, barulah dia benar benar bisa mengingat dia pernah memilikinya?!
Bagaimana, jika seseorang merasa yakin bahwa dia tak akan
menyesal, bahwa sesuatu itu di anggap benar benar buruk, tapi orang lain akan
berfikir sebaliknya. Mereka bisa melihat dari sudut pandang berbeda, seperti
saat aku melihat hal buruk pada mereka dengan sudut pandang mereka. Maka, apakah
manusia benar benar tak bisa melakukannya sendiri?
“penyesalan itu selalu datang belakangan”
Apakah pribahasa itu abadi? Seperti saat kau meraba dan
mengingat seluruh fitur di wajahmu, tapi jika kau bukan orang buta, atau tak
benar benar melihatnya dengan cermin, kau tak akan bisa membayangkan bagaimana
bentuknya bukan. Maka, kau hanya akan menyadari bahwa kau memiliki telinga yang
bagus setelah kau kehilangannya walaupun kau tak bisa melihat bentuknya. Kau juga
pasti akan tetap menangis ketika seluruh kulit wajahmu terbakar dan menggerutu
walau sebelumnya kau tak bisa melihat tapi bisa merasakan halusnya. Kau mungkin
juga akan menyadari betapa anehnya hidungmu jika dia tak berlubang lagi walau
sebelumnya kau tak bisa benar benar melihat hidungmu yang utuh.
Maka, haruskan hilang dulu? Haruskan berubah dulu? Haruskan menyesal
kemudian?
Ku fikir, menerima apa adanya sesuatu yang kau miliki
bukanlah persoalan mudah. Karenanya, jika itu adalah solusi terakhir, maka ini
perkara sulit.
Seperti halnya, sinar terang matahari tak selamanya mampu
menjamin tak akan ada hujan, karena hujan di panas hari juga tetap ada~. Manusia,
dengan segala kelebihannya dan kerendahan hatinya masih bisa membenci dan
marah. Manusia dengan segala yang dia bisa masih bisa gagal. Bahkan jika Tuhan
yang melarang, manusia masih mampu melakukan dosa.
Manusia adalah makhluk terkejam dan tanpa batas, manusia
adalah badai yang mampu bawa kehancuran dan keindahan pelangi secara bersamaan.
Manusia dapat menangis karena segala hal, dan dapat terdiam walau makhluk
paling lucu di muka bumi ada di hadapannya. Manusia adalah makhluk yang paling
sanggup melewati batasannya. Manusia adalah sesuatu yang luar biasa apalagi
Tuhannya.
Dan akhirnya, aku hanya sedang menegaskan, aku sedang
membenci sesuatu yang tak bisa ku lihat sisi baiknya dengan mata yang hanya
bisa melihat ke luar, bukan kedalam. Aku sedang tak menghargai apa yang ada
padaku, mungkin karena aku belum kehilangan. Dan aku sedang membanggakan
kekuranganku yang semua orang juga seharusnya begitu.
Benarkan?
Benarkah?!