Minggu, 09 April 2017

Laporan Observasi - Manajemen Kelas

Laporan Observasi
TK DHARMA WANITA PERSATUAN USU

Oleh;
Kelompok 8

Muhammad Nugraha Zati 161301082
Yustika Rahma Hasibuan (161301092)
Nabila Khairul Husna (161301118)
Chairunissa Syafwinia N (161301125)
Eunike Silitonga (161301136)
Felix Wijaya (161301141)
Shawaliyah Catur Wardhani (161301142)



 BAB I
Pendahuluan
A)    LATAR BELAKANG
            Pendidikan di TK adalah fondasi untuk meyiapkan anak agar siap belajar formal di tingkat selanjutnya. anak tidak hanya dipersiapkan kecerdasannya, tetapi juga kematangan emosi serta kemampuan sosial anak. di TK, anak diharapkan sudah bisa mandiri dan bersedia menerima otoritas orang lain.
            Dewasa ini, hampir di seluruh dunia anak anak usia dini yang belum siap untuk memasuki sekolah dasar normalnya akan memasuki yayasan-yayasan pendidikan untuk anak usia dini seperti PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) atau TK (Taman Kanak kanak). Khususnya di Indonesia, sudah hampir seluruh provinsi dan kota memiliki Paud dan TK tanpa melihat baik atau tidaknya standar dari masing masing PAUD dan TK tersebut. Namun belakangan, PAUD dan TK yang ada di kota kota besar mulai memperbaiki kualitas yayasan mereka bahkan sudah saling bersaing dalam menjalankan yayasan masing masingnya. kualitas dari pembelajaran, pemenuhan materi dan kebutuhan anak anak di yayasan menjadi perhatian penting untuk tiap tiap yayasan,
            saat ini tidak sedikit ditemukan Taman Kanak-Kanak (TK) yang salah kaprah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. anak-anak dijejali dengan pelajaran-pelajaran yang sifatnya akademis. telah banyak TK yang memaksa anak untuk bisa aca tulis dan berhitung (calistung) demi kebutuhan SD terhadap calon murid.
            setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda. anak yang memang tergolong cerdas dan cepat menyerap pelajaran mungkin tidak mengalami kesulitan. tetapi, tidak sedikit pula anak yang belum benar-benar siap untuk sekedar pegang pensil dan mengukir huruf-huruf di atas kertas.
            kunci dari pendidikan di TK adalah untuk menyiapkan keseimbangan yang sehat antara memberikan ruang dan kesempatan yang cukup bagi anak untuk berkreativitas, termasuk membangun inisiatif dalam melakukan suatu kegiatan, serta belajar kecakapan sosial dan mematangkan emosi melalui permainan dalam kelompok. yang menjadi fokus penelitan ini adalah mengetahui bagaimana manajemen kelas yang ada pada pendidikan prasekolah?
Maka dari itu, kami kelompok 7 melakukan observasi untuk memantau managemen kelas terhadap anak-anak pra sekolah di TK Dharma wanita Persatuan USU


TUJUAN
Tujuan Observasi ini adalah untuk:
1.      Mengetahui Manajemn kelas pada untuk proses belajar mengajar di TK Dharma Wanita USU.
2.       
B) LANDASAN TEORI
1) Anak Prasekolah

            Anak pada masa prasekolah memilki ciri-ciri tertentu. Kartono (1986) mengungkapkan ciri khas anak prasekolah sebagai berikut:

   Bersifat Egosentris naif
Anak memandang dunia luar dari pandangannya sendiri, sesuai dari pengetahuan dan pemahamannya sendiri, serta di batasi oleh perasaan dan pikirannya yang masih sempit. Ia mengganggap bahwa pribadinya adalah satu dan terpadu erat dengan lingkungannya

   Relasi sosial yang primitif
Ciri ini merupakan akibat dari sifat egosentris yang naif dengan ditandai oleh kehidupan anak yang belum dapat memisahkan antara keadaan dirinya dengan keadaan lingkungan sosial sekitarnya. Dengan kata lain, anak membangun dunianya dengan khayalan dan keinginannya sendiri

   Kesatuan jasmani dan rohani yang hampir tidak terpisahkan
Anak belum dapat membedakan kondisi jasmani dan rohani. Isi jasmani dan rohani anak masih merupakan kesatuan yang utuh. Penghayatan anak terhadap sesuatu diekspreikan secara bebas, spontan dan jujur baik dalam mimik, tingkat laku, maupun bahasanya dan anak tidak dapat berbohong atau bertingkah laku pura-pura

   Sikap hidup yang fisiogonimis
Anak bersifat fisiogonomis terhadap dunianya, artinya secara langsung anak memberikan sifat konkrit atau sifat lahiriah, nyata terdapat apa yang di hayatinya. Kondisi ini disebabkan karena pemahaman anak masih bersifat menyatu dan totaliter antara jasmani dan rohani


Menurut Biechler dan Snowman (1953) anak usia 3-6 tahun masuk pada mas prasekolah. Snowman (1993) mengemukkan ciri-ciri anak prasekolah sebgaai berikut:

Ciri Kognitif:  Anak prasekolah umumnya terampil dalam berbahasa. Sebagian dari mereka senang berbicara. Kompetensi anak perlu dikembangkan melalui interaksi, minat, kesempatan, mengagumi, dan kasih sayang

Ciri Sosial:  Umumnya, anak pada tahapan ini memiliki satu atau dua sahabat tetapi sahabat ini cepat berganti, mereka umumnya dapat cepat menyesuaikan diri secara sosial. Anak lebih mudah bermain bersebelahan dengan anak yang lebih besar.

Ciri Emosional : Anak TK cenderung mengekpresikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak dengan usia tersebut. Iri hati sering terjadi, mereka seringkali memperebutkan perhatian guru.

2) Manfaat Pendidikan Prasekolah pada Anak

1.      membantu pembentukan struktur otak anak
2.      saat anak berusia 5 tahun tingkat pertumbuhan otak mencapai 90 persen. sehingga besar sekali pengaruhnya untuk masa depannya jika pendidikan yang diberikan salah.
3.      memiliki pencapaian akademis lebih baik
4.      dengan memberikan anak pendidikan prasekolah maka rasa ingin tahunya akan terpenuhi. sehingga membuahkan hasil yang positif bagi akademisnya.
5.      sebagai tambahan aktivitas harian anak yang lebih berstruktur
6.      di sekolah, anak akan mendapatkan permainan yang berbeda dari permainan yang dia dapatkan dirumah. dalam dunia prasekolah, olahraga juga disertakan untuk aktivitas anak
     3) Definisi Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas. Pengelolaan itu sendiri akar katanya adalah “kelola”, ditambah awalan “pe” dan akhiran “an”. Istilah lain dari pengelolaan adalah “manajemen”. Manajemen adalah kata yang aslinya dari bahasa Inggris, yaitu management yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan. 
Pengelolaan adalah proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan dan pencapaian tujuan. Pengelolaan dalam pengertian umum adalah pengadministrasian pengaturan atau penataan suatu kegiatan.
Adapun kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru” atau ruangan belajar dan atau rombongan belajar.

4) Tujuan Pengelolaan Kelas
Ada beberapa hal yang menjadi tujuan pengelolaan kelas, yaitu sebagai berikut :
1. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
2. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar.
3. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas.
4. Membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.
5). Prinsip-prinsip Pengelolaan Kelas
Secara umum faktor yang mempengaruhi pengelolaan kelas dibagi menjadi dua golongan yaitu, faktor intern dan faktor ekstern siswa.
Faktor intern siswa berhubungan dengan masalah emosi, pikiran, dan perilaku. Kepribadian siswa dengan ciri-ciri khasnya masing-masing menyebabkan siswa berbeda dari siswa lainnya sacara individual. Perbedaan secara individual ini dilihat dari segi aspek yaitu perbedaan biologis, intelektual, dan psikologis.
Faktor ekstern siswa terkait dengan masalah suasana lingkungan belajar, penempatan siswa, pengelompokan siswa, jumlah siswa, dan sebagainya. Masalah jumlah siswa di kelas akan mewarnai dinamika kelas. Semakin banyak jumlah siswa di kelas, misalnya dua puluh orang ke atas akan cenderung lebih mudah terjadi konflik. Sebaliknya semakin sedikit jumlah siswa di kelas cenderung lebih kecil terjadi konflik.[5]
Djamarah menyebutkan “Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas dapat dipergunakan.” Prinsip-prinsip pengelolaan kelas sebagai berikut :
a. Hangat dan Antusias
Hangat dan Antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan akrab pada anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktifitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
b. Tantangan
Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah siswa untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang
c. Bervariasi
Penggunaan alat atau media, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian siswa. Kevariasian ini merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan.
d. Keluwesan
Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan siswa serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif. Keluwesan pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan siswa, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya.
e. Penekanan pada hal-hal yang Positif
Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negative. Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku siswa yang positif daripada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar
f. Penanaman Disiplin Diri
Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan dislipin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengendalikan diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal.[6]
6). Komponen-komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas
Komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas ini pada umumnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif) dan ketrampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal terdiri dari keterampilan sikap tanggap, membagi perhatian, pemusatan perhatian kelompok. Ketrampilan suka tanggap ini dapat dilakukan dengan cara memandang secara seksama, gerakan mendekat, memberi pertanyaan, dan memberi reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan. Yang termasuk ke dalam keterampilan memberi perhatian adalah visual dan verbal. Tetapi memberi tanda, penghentian jawaban, pengarahan dan petunjuk yang jelas, penghentian penguatan, kelancaran dan percepatan, merupakan sub bagian dari keterampilan pemusatan perhatian kelompok.
Masalah modifikasi tingkah laku, pendekatan pemecahan masalah kelompok, dan menemukan serta memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah, adalah tiga buah strategi yang termasuk ke dalam ruang lingkup keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.

7) Pengelolan Pembelajaran di Taman Kanak-Kanak
Ada tiga point inti dalam pembelajaran di Taman kanak-kanak, yaitu Pengaturan Ruangan/Kelas, Pengorganisasian anak didik, Pengaturan alat dan sumber belajar, penjelasannya sebagai berikut :


1.    Pengaturan Ruangan/Kelas
Ruangan/kelas diatur sedemikian rupa, sehingga kegiatan pembelajaran dapat terlaksana seefisien mungkin. Dalam pengaturan ruangan/kelas ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
a.    Susunan meja-kursi anak bersifat fleksibel dan dapat berubah-ubah.
b.    Pada waktu mengikuti kegiatan, anak tidak selalu duduk di kursi, tetapi dapat juga duduk di tikar/karpet.
c.    Penyediaan alat bermain/sumber belajar harus disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.
d.    Pengelompokkan meja disesuaikan dengan kebutuhan sehingga cukup ruang gerak bagi anak didik.
Catatan Penting :
a.    Dinding dapat digunakan untuk menempelkan hasil pekerjaan anak.  Pekerjaan anak ditempel di dinding dan dilaksanakan secara bergantian sehingga tidak membosankan dan tidak mengganggu perhatian anak.
b.    Peletakan dan penyimpanan alat bermain/sumber belajar diatur sedemikian rupa sesuai dengan fungsinya, sehingga memudahkan anak untuk menggunakan dan mengembalikan pada tempatnya setelah selesai digunakan.
c.    Penataan ruang kelas, penataan perabotan, asesoris di dinding dan berbagai bahan pajangan hendaknya diubah-ubah secara periodik agar selalu tercipta suasana kelas yang baru dan tidak membosankan.

BAB II : SISTEMATIKA PELKASANAAN DAN ANALISA DATA OBSERVASI
A.     SISTEMATIKA PELAKSANAAN OBSERVASI
29 Maret 2017 : Diskusi Kelompok
                        30 Maret 2017 : Observasi
                        4 Mei 2017      : Pengolahan Data
                        6 Maret 2017   : Diskusi Kelompok
B.        ANALISA DATA
            Data diperoleh melalui kegiatan observasi langsung di lembaga sekolah yang telah telah ditentukan.
C.        Sampel Penelitian dan Lokasi Pengambilan Data
            Sampel: Siswa dan guru kelas di TK DHARMA WANITA PERSATUAN USU
            Tempat: TK Dharma Wanita Persatuan USU. Jln. Universitas NO 32, Kampus USU- Medan


BAB III : LAPORAN DAN EVALUASI DATA
A.     LAPORAN
1.      Jadwal Observasi (Kamis, 30 Maret 2017)
08.00               : Bel berbunyi dan berbaris
08.00 08.15  : Kegiatan awal yaitu salam dan doa
08.15 09.45  : Memulai pelajaran inti
09.45 10.00 : Makan disertai doa dan cuci tangan sebelum makan.
10.00 10.15  : Istrihat yaitu main di luar kelas
10.15 10.45  : Kegiatan akhir yaitu diskusi, doa dan diakhiri dengan salam
10.45               : Pulang

2.      Sitematika Observasi

         Kelompok tiba di TK Dharma Wanita Persatuan USU pada pukul 08.15, anak-anak sudah berada di dalam kelas dan menyambut kedatangan kami di sela sela pembelajaran yang sudah dimulai. Kelompok masuk pada kelas TK 0 besar. Namun di karenakan banyak murid yang tidak hadir karena faktor cuaca, anak anak dari dua kelas di gabungkan di kelas yang sama. Pada TK Dharma Wanita Persatuan USU terdapat 3 pembagian kelas, yaitu : (1) kelas 0 kecil umur 3 tahun; (2) kelas 0 besar umur 5-6 tahun; dan (3) kelas 0 besar umur 5-6 tahun. Dan hari itu, kedua kelas 0 besar di satukan sehingga kami bisa langsung berinteraksi dengan anak anak dari dua kelas sekaligus.

Jumlah normal dari kelas tiap kelas adalah 15 orang, namun karena kelas di gabung, siswa  yang hadir pada Kamis, 30 Maret 2017 mencapai 20 lebih. Guru kelas adalah Ibu Ani, Ibu ani sendiri sudah mengajar di TK ini selama kurang lebih 14 tahun lamanya. Sosok ibu Ani adalah ibu yang tegas namun sangat dekat dengan anak anak. Dia akan berinteraksi langsung satu persatu secara bergantian dengan para murid untuk memeriksa hasil kerja mereka pada tugas tugas yang di berikan.
 Meja di kelas tersebut ada 6, masing masing di isi 5-6 orang dimana anak perempuan dan laki lakinya di dudukkan secara acak. Keadaan ini membuat anak anak lebih mudah berinteraksi satu sama lain, walaupun ini juga menambah resiko karena mempermudah anak anak untuk bermain atau menganggu sesama temannya.
         Pada saat kami datang, anak-anak sudah memulai sesi belajar dengan mengerjakan latihan pada buku mereka, Latihan yang mereka kerjakan di mulai dari Hitungan, memilah Kata perkata, sampai mewarnai. Namun untuk di awal, semua secara serentak mengerjakan hitungan yang 1-10.
         Dari yang kami lihat, buku yang di gunakan penuh dengan warna dan menggunakan banyak gambar serta huruf huruf yang besar. kebanyakan dari mereka juga sudah mahir menggunakan alat tulis, cara memegang pensil, cara menulis, cara melingkari atau menceklis, dan cara mereka mewarnai rata rata sudah cukup baik mengingat umur mereka masih dibawah 6 tahun.
         Pengenalan huruf dan angka dari anak anak juga sudah cukup baik. dari 5 orang yang kami tanya, hampir semua sudah dapat menghitung dari 1-100. Mereka bisa menyebutkan huruf abjad A-Z. bahkan, sebagian dari mereka juga sudah dapat menyebutkan angka dengan bahasa inggris 1-20.

         Setiap anak yang sudah menyelesaikan tugasnya akan langsung menghampiri Guru untuk memeriksakan hasil pekerjaan mereka. mereka memeriksakan hasilnya dengan cara bergantian, ada aturan kelas dimana tidak boleh mengerumuni guru atau mengganggu guru yang sedang memeriksa tugas yang lain. Hasil tugas yang selesai dan baik akan di paraf dan di beri stiker. Kemudian Tugas akan di lanjutkan kelembaran berikutnya, dimana tugasnya akan berbeda. saat itu, tugas pertama adalah hitungan, tugas kedua adalah melingkari kata per kata.

         Untuk anak anak yang sudah menyelesaikan tugas satu dan dua akan di lanjutkkan dengan tugas mewarnai. Dimana anak anak sudah di bekali alat mewarnai khususnya crayon dan Cat kayu, yang sebelumnya di simpan di loker masing masing,
         Untuk mewarnai, ada beberapa anak yang memang telah mengenali warna dan namanya. Namun ada pula yang hanya mencocokkan warna cat yang dia miliki dengan contoh warna yang tersedia.

         Setelah selesai mewarnai anak anak di perbolehkan bermain dengan bebas di dalam kelas. mereka di perbolehkan memainkan mainan yang tersedia di dalam kelas. mainan mainan yang ada di dalam kelas juga dapat di kategorikan mainan yang mendidik, seperti balok, dan sebegainya yang pada dasarnya memang memiliki nilai mendidik setiap kita memainkkannya.
         Toleransi di kelas juga cukup baik, di saat hampir 80% anak anak di kelas sudah bermain, anak anak yang masih belum bisa menyelesaikan tugas mewarnainya di perbolehkan untuk menyudahi tugasnya dan ikut bermain. Tidak ada paksaan atau ketegasan yang berlebihan, namun anak anak di beri pengertian bahwa mereka harus menyelesaikan tugasnya mewarnainya di hari berikutnya.

         Pukul 09.45 sesi pelajaran inti selesai. Semua anak yang memainkan mainan di haruskan untuk merapihkan kembali mainannya. Peraturan di kelas, siapa yang tidak menyentuh atau tidak memainkan mainan tidak perlu merapihkan mainan yang berserak. Sedangkan yang bermain di haruskan merapihkan semuanya bersama sama sebelum kembali duduk rapi.
          Kemudian akan dilanjutkan dengan makan siang bersama yang disertai dengan doa dan cuci tangan sebelum makan, cuci tangan di lakukan di kamar mandi yang ada di sebelah ruangan. Anak anak akan mencuci tangannya secara berurutan dan bergantian.
         Sesuai dengan kepetusan kelompok, observasi pembelajaran anak anak kami sudahi sebelum anak anak makan. Sehingga sebelum mereka benar benar makan, kami mendapatkan sedikit waktu untuk berinteraksi langsung dengan anak anak,
         Interaksi kami di mulai dengan perekanalan semua anggota kelompok di depan kelas. Masing masing dari kami memperkenalkan nama yang saat itu, kami tegaskan harus di ingat oleh anak anak tersbut. Namun hasilnya, hanya beberapa anak yang benar benar mengingat, mungkin karena faktor nama yang terlalu sulit atau panjang.
         Kemudian, dengan berbekalkan Permen (disini permen yang kami gunakan adalah permen yang mengandung susu yang tidak bermasalah jika di konsumsi oleh anak anak), kami memberikan instruksi bahwa semua anak anak harus duduk rapi dan tersenyum lebar agar kami beri hadiah. Dan dengan antusias anak anak itu langsung menurut, bahkan mereka memiliki cara tersendiri untuk duduk rapi, dimana Ibu Ani selaku guru akan berteriak Mana Rapimu?! maka anak anak akan menjawab Ini Rapiku?! dengan sikap duduk yang rapi dan kedua tangan dilipat di atas meja.
         Setelah semuanya benar benar telah duduk rapi dan tersneyum manis kepada anggota kelompok, kami semua langsung membagikan permen permennya. Namun permen langsung di simpan karena mereka harus makan nasi lebih dulu.
         Mengingat waktu makan siang sudah sampai pada waktunya, kelompok akhirnya menutup perjumpaan hari itu dengan mengucapkan terima kasih kepada semua anak anak dan ibu guru.  Sebelum menutup observasi anak-anak menyanyikan sebuah lagu berjudul Guruku Tersayang dengan serentak. Kemudian ada beberapa murid yang juga menunjukkan kemampuan mereka seperti bernyanyi dan bercerita.
         Untuk Informasi, ada cukup banyak anak yang berprestasi di kelas itu, di mulai dari juara bercerita, sampai juara membaca ayat ayat pendek. Juaranya juga beragam, ada yang juara satu, dua dan tiga bahkan favorit untuk tingkat kota.
         Setelah semua menunjukkan bakatnya, kami juga sempat berfoto bersama dengan seluruh anak anak di kelas. setelah berfoto barulah kami keluar kelas, tepatnya pukul 10.15.

B.     EVALUASI
Aspek-aspek perkembangan yang ingin dicapai pada TK Dharma Persatuan Wanita USU meliputi:
1.      Bidang Pembentukan Perilaku
a.       Moral dan nilai-nilai agama
Meningkatkan ketaqwaan anak terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan membina sikap anak dalam meletakkan dasar agama, agar anak menjadi warga negara yang baik.
b.      Sosial, emosional, dan kemandirian
Membina anak agar dapat mengendalikan emosinya secra wajar dan dapat berinteraksi dengan sesamanya maupun dengan orang dewasa dengan baik, serta dapat menolong dirinya sendiri dalam rangka kecakapan hidup.
2.      Bidang Pengengambangan Kemampuan Dasar
a.       Berbahasa
Agar anak mampu mengungkapkan pikiran melaui bahasa yang sederhana secara tepat, mampu berkomunikasi secara efektif dan membangkitkan minat, untuk dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
b.      Kognitif
Mengembangkan kemampuan berpikir anak untuk dapat mengolah perolehan belajarnya, dapat menemukan bermacam-macam alternatif pemecahan masalah, membantu ana untuk mengembangkan kemampuan logika matematis dan pengetahuan akan ruang dan waktu, serta mempunyai kemampuan untuk milah-milah, mengelompokkan serta mempersiapkan kemampuan berpikir secara telii.
c.                   Fisik
Memperkenalkan dan melatih gerakan kasar dan halus, meningkatkan kemampuan mengelola, mengontrol gerakan tubuh dan koordinasi serta meningkatkan keterampilan tubuh dan cara hidup sehat. Sehingga dapat menunjang pertumbuhan jasmani yang kuat, sehat, dan terampil.
C.     TESTIMONI
   Muhammad Nugraha Zati (16-082)
Tugas observasi ini menurut saya sangat bagus, karena dengan tugas ini kita dapat berkomunikasi dengan anak TK dimana nantinya itu sangat berguna kedepannya, dan saya mendapat pengetahuan tentang manajemen kelas pada anak TK
   Yustika Rahma Hasibuan (16-092)
Menurut saya tugas observasi manajemen kelas pada anak TK ini sangat menarik dan menyenangkan, karena disini saya akan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan dalam manajemen kelas pada anak TK. Kemudian mengetahui aspek-aspek yang ingin dicapai pada anak TK.
   Nabila Khairul Husna  (16-118)
Semester kedua ini adalah pertama kali bertemu mata kuliah Pendidikan, sejauh ini apa yang kami pelajari sebenarnya sudah lama ada di sekitar kita bahkan sering kita peraktekkan secara langsung. Namun, disini kita melihat semuanya dari sisi yang berbeda, sisi yang sesungguhnya dari hal hal yang biasa kita laksanakan tanpa tau sebenarnya apa sih yang kita lakukan. Contohnya seperti ‘Belajar’ dan ‘Motivasi’. Keduanya adalah hal hal yang sangat familiar untuk semua orang, namun disinilah kita baru mengerti apa sebenarnya pengertian Belajar, apa sebenarnya yang di maksud dengan Motivasi. Selain belajar di kelas, tugas Observasi juga menjadi tantangan baru untuk kami yang belum setahun menjajaki bangku perkuliahan. Berinteraksi langsung dengan objek observasi kami di luar kampus, khususnya untuk kami adalah anak anak TK. Mendalami dan mempelajari bagaimana anak anak TK itu melalui hari sekolahnya adalah hal yang memberikan banyak pengetahuan, sekalipun dulunya kami juga pernah melalui masa itu, namun melihat kembali proses belajar mengajar di TK dengan usia yang sudah beranjak dewasa adalah suatu hal yang istimewa.
   Chairunissa Syafwinia N (16-125)
Menurut saya, tugas observasi untuk mata kuliah Psikologi Pendidikan ini benar-benar dapat membantu skill berkomukasi saya dengan anak-anak TK, yang tentunya sayang diperlukan jika akan menjadi seorang psikolog nantinya.Dengan tugas ini, pengetahuan tentang manajemen kelas dan situasi kelas anak TK pun semakin bertambah. TK yang saya kunjungunadalah TK dharma wanita USU dan TK ini memiliki anak-anak yang luar biasa aktif dan periang. Sebelum kelompok kami masuk kelas, anak-anak sudah menunggu kami di depan jendela dan menyambut kami dengan sangat antusias. Di dalam kelas anak-anak di ajar mewarnai dan berhitung dari buku di diberi oleh guru mereka. Anak-anak tersebut begitu semangat mengerjakan tugas. Pengalaman mengobservasi ini benar-benar menyenangkan dan bermanfaat. Melihat anak-anak antusias menyambut kami benar bener merupakan kesenangan sendiri
   Eunike Silitonga  (16-136)
Dalam mata kuliah Psikologi Pendidikan, kami juga mendapat tugas Observasi. Bagi saya ini sangat bermanfaat, karna materi-materi yang kami dapatkan selama perkuliahan dapat kami aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama, bagi kelompok saya yang mendapat kesempatan untuk melakukan observasi di Taman Kanak-Kanak (TK), disini kami bisa melihat bagaimana perkembangan seorang anak, bagaiman metode pembelajarna yang baik kepada mereka, dan melihat bagaimana mereka beraktifitas. Sehingga kami bisa mengeksplorasi atau mengaplikasikan ilmu yang sudah kami terima didalam kehidupan kami berinteraksi dan bersosialisasi kepada orang lain.
   Felix Wijaya  (16-141)
Bagi saya tugas observasi pendidikan ini sangat menyenangkan karena kita langsung turun ke lapangan. Selain menyenangkan, observasi ini juga sangat bermanfaat dan menambah pengalaman kami juga. Saya dan kelompok melakukan observasi di TK Dharma Wanita Persatuan USU pada tanggal 30 Maret 2017. Kami disambut dan diterima dengan hangat oleh kepala sekolah , guru, dan tentunya oleh adik-adik kecil yang lucu. Proses belajar mengajar juga sangat menyenangkan. Adik-adik tersebut sangat bersemangat dalam menyelesaikan latihan soal mereka. Setelah menyelesaikan latihan soal mereka, adik-adik tersebut bisa bermain-main.
   Shawaliyah Catur Wardhani  (16-142)
Menurut saya, tugas observasi ini dapat memberikan pengetahuan tentang manajemen  kelas yang baik dan benar, terutama pada tingkat pendidikan prasekolah, Dan pada observasi ini juga saya dapat belajar bagaimana cara mengobservasi, karena saya merasa kemampuan mengobservasi saya masih belum masksimal.

Testimoni Psikologi Pendidikan

     Semester kedua ini adalah pertama kali bertemu mata kuliah Pendidikan, sejauh ini apa yang kami pelajari sebenarnya sudah lama ada di sekitar kita bahkan sering kita peraktekkan secara langsung. Namun, disini kita melihat semuanya dari sisi yang berbeda, sisi yang sesungguhnya dari hal hal yang biasa kita laksanakan tanpa tau sebenarnya apa sih yang kita lakukan. Contohnya seperti ‘Belajar’ dan ‘Motivasi’. Keduanya adalah hal hal yang sangat familiar untuk semua orang, namun disinilah kita baru mengerti apa sebenarnya pengertian Belajar, apa sebenarnya yang di maksud dengan Motivasi. Selain belajar di kelas, tugas Observasi juga menjadi tantangan baru untuk kami yang belum setahun menjajaki bangku perkuliahan. Berinteraksi langsung dengan objek observasi kami di luar kampus, khususnya untuk kami adalah anak anak TK. Mendalami dan mempelajari bagaimana anak anak TK itu melalui hari sekolahnya adalah hal yang memberikan banyak pengetahuan, sekalipun dulunya kami juga pernah melalui masa itu, namun melihat kembali proses belajar mengajar di TK dengan usia yang sudah beranjak dewasa adalah suatu hal yang istimewa. 

Belajar

Definisi belajar :
Belajar merupakan perubahan perilaku yang relative permanen yang di bentuk melalui pengalaman. Namun tidak semua perubahan perilaku adalah hasil dari belajar. Perubahan perilaku yang di dasari oleh obat, kelelahan, dan maturasi bukanlah hasil dari belajar.
1.       
Kondisioning Klasikal : Belajar Asosiasi
Tokoh dari klasikan kondisioning adalah Ivan Pavlov, dengan elemn kunci tentang asosiasi 2 stimulus. 2 hal penting berkaitan dnegan pembentukan asosiasi ini adalah frekuesi dan timing.
Pembelajaran ini adalah dimana suatu stimulus netral atau CS di pasangkan dengan UCS atau stimulus yang di kondisikan untuk menghasilkan respon netral yang identik dengan respon yang tidak di kondisikan.
Terminologi Kondisioning Klasikal :
UCS atau Unconditioned Stimulus : adalah stimulus alamiah yang mendatangkan respon tanpa pengkondisian/belajar
CS atau Conditioned Stimulus : adalah stimulus yang di buat setelah di pasangkan dengan UCS
UCR atau Unconditined Respon : adalah respon yang secara normal di hasilkan setelah mendapatkan UCS
CR atau Conditioned Response : adalah respon yang di hasilkan stimulus dan identik dengan UCR
Pembelajaran Klasikal kondisioning ini dapat menciptakan sebuah perilaku baru dengan menepatkan timing dan frekuensi. Pembelajaran ini juga berperan dalam memahami issue phobia atau rasa takut. Dan pembelajaran ini atau perubahan perilaku hasil kondisioning klasikal dapat di hilangkan dengan teknik counterconditioning.
2.     
  Kondisioning Operan : Belajar konsekuensi
Kondisioning operan adalah pembejaran dimana konsekuensi dari perilaku mengarahkan pada perubahan probabilitas terjadinya prilaku. Terdapat tiga macam konsekuensi yang mempengaruhi perilaku.
a.       Penguatan positif
Dimana konsekuensi yang mengarah pada penikatan terjadinya perilaku. Dengan dua hal yang penting, yaitu timing, dan konsistensi pemberian penguatan
b.      Penguatan Negatif
Dimana penguatan menghindakan suatu kejadian negatif sebagai konsekuensi dari perilaku.
c.     
  Hukuman
Hukuman merupakan hasil atau resiko negatif dari perilaku yang mengarah pada kemungkinan terjadinya perilaku lagi.
Adapun petunjuk penggunaan Hukuman :
a.       Jangan menggunakan hukuman fisik
b.      Jangan menghukum tanpa memberikan penguatan positif
c.       Jangan mencampur adukkan hukuman dan hadian untuk perilaku yang sama
d.      Konsisten dalam menjalankan hukuman

Dari sudut pandang Kognitif
                Belajar adalah suatu proses mentak yang aktif untuk memperoleh, mengingat, dan menggunakan pengetahuan dari informasi yang di terima. Adapun elemen elemen paling penting dalam proses belajar adalah pengetahuan.
Perbandingan Pendekatan Kognitif dan perilaku dalam belajar adalah ;
1.       Dari sudut pandang kognitif, hal yang di pelajari adalah pengetahuan, perubahan pada pengetahuan yang dapat mengubah perilaku. Menurut Perilaku, Perilaku lah yang harus di pelajari dan menjadi fokus utama.
2.       Baiik sudut pandang kognitif maupun perilaku dalam belajar, keduanya meyakini bahwa penguatan merupakan hal terpenting dalam belajar. Menurut pendekatan perilaku, oenguat menguatkan respon, menurut pendekatan kognitif, penguat merupakan sumber pengetahuan yang menyediakan umpan balik mengenai hal yang mungkin terjadi bila perilaku di ulang atau di ubah.
3.       Dalam pendekatan perilaku, indiviu bersifat pasif. Indifidu di pengaruhi oleh lingkungan. Sedangkan dalam pendekatan kognitif, indifidu aktif memilih, mempraktekkan, memberi perhatian, mengabaikan merefleksika, dan mengambil keputusan lainnya.


Pengetahuan tentang belajar dalam psikologi pendidikan bukan hanya tentang bertambahnya informasi dan pengetahuan seperti yang sebelumnya kita fikirkan. Artinya, belajar, bukan hanya sekedar masa dimana seseorang pergi bersekolah dan melakukan proses belajar mengajar. Dari sinilah, kita mengetahui bahwa setiap perubahan perilaku yang di dapat dari pengalaman dan menghasilkan perubahan perilaku yang terarah, merupakan sebuah proses belajar.

Inteligensi

Menurut David Wechsler, Inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarh, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara gari besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional.
Namun, terdapat perbedaan pengertian inteligensi dari orang Awam atau masyarakat awam dengan para ahli ;
Iinteligensi adalah :
 1. Kemampuan praktis untuk pemecahan masalah & Kemampuan pemecahan masalah
Awam   : - Nalar yang baik
 - Melihat hubungan diantara berbagai hal
                 - Melihat aspek permasalahan secara menyeluruh
                 - Pikiran terbuka
Ahli        :- Mampu menunjukkan pengetahuan mengenai masalah yag dihadapi
                 - Mengambil keputusan tepat
                - Menyelesaikan masalah secara optimal
                 - Menunjukkan pikiran jernih
2. Kemampuan Verbal & Inteligensi Verbal
Awam   :- Berbicara dengan artikulasi yang baik dan fasih
                 - Berbicara lancar
                 - Punya pengetahuan di bidang tertentu
Ahli        :- Kosakata baik
                 - Membaca dengan penuh pemahaman
                 - Ingin tahu secara intelektual
                 - Menunjukkan keingintahuan
3. Kompetensi Sosial & Inteligensi Praktis
 Awam  :- Menerima orang lain
                 - Mengakui kesalahan
                - Tertarik pada masalah sosial
                 - Tepat waktu bila berjanji
Ahli        :-Tahu situasi
                 -Tahu Cara mencapai tujuan
                 -Sadar terhadap dunia sekeliling
                 -menunjukkan minat terhadap dunia luar

                Namun pada dasarnya, inteligensi sesungguhnya adalah istilah yang di gunakan untuk mendefinisikan kecerdasan, kepintaran, ataupun kemampuan untuk memecahkan masalah yang di hadapi oleh seseorang.
Berikut adalah ciri ciri perilaku inteligen menurut masyarakat awam  untuk inteligen tinggi dan rendah :
1 inteligen tinggi : memiliki kemampuan untuk memahami dan menyelesaikan masalah mental degan cepat, memiliki kemampuan mengingat yang baik, dan kreativitas tinggi serta imajinasi yang berkembang
2. intelige rendah : memiliki perilaku yag lamban, tidak dapat cepat mengerti suatu keadaan, dan kurang mampu menyelesaikan masalah mental yang sederhana.
Berikut adalah faktor faktor yang mempengaruhi inteligensi :
1.       Uni Factor Theory (Teori Kapasitas Umum) – William Stern
Inteligensi merupakan kemampuan umum, cara kerjanya juga bersifat umum. Kasitas umum tersebut muncul akibat pertumbuhas fisiologis dan akibat belajar
2.       Two Factors Theory (Spearman)
- Faktor Umum (G Faktor)
                Faktor yang menentukan apakah seseorang itu cara umum bodoh atau pandai
- Faktor khusus (S Faktor)
Faktor yang menentukan kepandaian seseorang dalam bidang tertentu, seperti fisika ataupun bahasa
3.       Multi Factors Theory –E.L Thorndike
Inteligensi terdiri dari bentuk hubungan neural antara stimulus dan respon. Hubungan inilah yang mengarahkan tingkah laku individu
4.       Primary Mental Abilities – Thurstone
Bahwa faktor umum tidak ada, yang ada hanya sekelompok faktor yang di sebut Primary mental abilities. Di antaranya :
-Pengertian verbal
-kemampuan angka
-penglihatan keruangan
-kemampuan penginderaan-
-ingatan
-penalaran
-kelancaran kata

Untuk Tes Inteligensi secara individu, terdapat dua jenis tes
1.       Tes Binet
Di buat berdasarkan konsep inteligensi Stern yang telah ada, Binet mengembangkan suatu konsep yang di namakan konsep Mental Age atau MA. Yaitu usia mental, suatu level perkembangan mental individu yang berkaitan dengan perkembangan lain. Tes binet ini mengalami revisi berkali kali, dan Tes ini di peruntukan untuk anak usia dua tahun hingga dewasa.
2.       Skala Wecsler
Di ciptakan oleh David Wechsler, di perkenalkan dengan IQ Performance, skalanya terdiri dari tiga macam, yaitu ; WPPSI-R untuk usia 1-6.5 tahun. WISC-R usia 6-16 tahun. WAIS-R usia dewasa.
Untuk tes inteligensi kelompok terdiri dari tiga jenis tes
1.       Lorge Thorndike Inteligence Tests
2.       Kuhlman Anderson Intelligence tests
3.       Otis Lennon School mental Abilities

Namun, dalam kedua tes ini, Tes kelompok dianggap lebih nyaman bagi anak, ekonomis, namun tidak dapat di susun laporan individualnya. Sedangkan tes individual kurang ekonomis, namun pemahaman murid lebih baik dan dapat mengukur tingkat kecemasan murid.

Motivasi

Motivasi adalah kata yang sangat sering kita dengar, bahkan mungkin semua orang pernah berurusan langsung dengan yang namanya Motivasi. Baik sebagai seseorang yang memotivasi, atau seseorang yang termotivasi.

Di psikologi sendiri, kita pasti tau bahwa menjadi seorang motivastor juga salah satu pilihan masa depan untuk seorang Psikolog. Namun, sebelum sampai kesana, mari kita membahas apa itu sebenarnya MOTIVASI.

                Motivasi adalah usaha yang didasari untuk mengerahkan dan menjaga tingkah seseorang agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. Artinya motivasi adalah hal yang mendorong seorang manusia untuk mengerjakan, mendapatkan, dan menguasahakan sesuatu baik itu untuk dirinya sendiri, orang lain atau bahkan untuk orang banyak.

Ada Empat sudut pandang mengenai motivasi ;
1.       Behavioral
- Sudut pandang ini menekankan pada imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci menentukan motivasi. Seperti ketika seseorang yang akan bertemu pasangannya, dimana pasangannya sangat sensitiv pada bau badan. Sehingga orang tersebut akan mandi dan menggunakan wawangian agar pasangannya senang terhadap dirinya dan memujinya dan tentu saja tidak marah karena dia bau badan.
- Motivasi sebagai konsekuensi dari insentif eksternal
                Dimana insentif adalah peristiwa atau stimuli yang dapat berupa positif ataupun negatif untuk memotivasi perilaku seorang murid.
Insentif dapat menambah minat atau kesenangan pada pembelajaran dan mengarahkan perhatian untuk perilaku yang tepat dan dapat menjauhkan perilaku yang tidak tepat.
Bentuk dari insentif ini berupa nilai yang baik, tanda bintang atau sesuatu sebagai tanda penghargaan, pujian, dan bentuk penghargaan lainnya.
2.     
         Humanistik
- Sudut pandang ini menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib sendiri.
- sudut pandang ini berkaitan dengan pandangan Abraham Maslow
- Dengan Hirarki kebutuhan berupa  kebutuhan fisik, keamanan, cinta dan rasa memiliki, harga diri, dan aktualisasi diri.

3.       Kognitif
- Sudut pandang ini menekankan pemikiran murid yang akan memandu motivasi mereka, dan juga arti penting dari penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring kemajuan menuju suatu tujuan. Dimana artinya motivasi itu datang dari dalam diri sendiri tanpa harus di karenakan adanya faktor eksternal
- Sudut pandang ini bertentangan dengan behavioral yang berpendapat bahwa tekanan eksternal harus di tekankan. Karena dari sudut pandang ini, pemikiran atau faktor internal adalah yang harus lebih di tekankan.
- Dimana Murid merain prestasi tinggi bukan karena kebutuhan biologis tapi karena punya motivasi internal untuk berinteraksi dengan lingkungan secara efektif

4.       Sosial
-Sudut pandang ini adalah motivasi yang mengarah dengan hubungan seseorang dengan orang lain secara aman, membutuhkan pembentukan, pemeliharaan, dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan arab.
- Kebutuhan afiliasi murid tercermin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, keterikatan dengan orang tua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru
- Murid yang punya hubungan yang penuh perhatian dan supportif biasanya memiliki sikap akademik yang positif dan lebih senang bersekolah
- salah satu faktor terpenting dalam motivasi dan prestasi murid adalah persepsi mereka mengenai apakah hubungan mereka dengan guru bersifat positif atau tidak.

                Sejauh ini dapat disimpulkan, Motivasi sesungguhnya adalah alasan dan dorongan yang membuat seseorang yang termotivasi tersebut dapat berusaha sebaik mungkin dalam mencapai suatu tujuan. Dalam proses belajar mengajar, motivasi sangat berperan besar. baik motivasi untuk guru agar dapat mengajar dengan baik dan dapat memotivasi murid muridnya. Begitu juga dengan motivasi para murid agar dapat belajar dengan baik dan dapat termotivasi oleh gurunya.

Sumber Pustaka :
Santrock, J W.
Psikologi Pendirikan Jilid 2. 2007

Jakarta : Fajar Interpratama Mandiri